Kitab Tanbihat 'ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu'minat (Pertemuan 42)



KAJIAN  FIQIH

Dari kitab Tanbihat ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu`minat


Penulis: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan حفظه الله


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، آما بعد:

أخواتي في الله رحمني ورحمكم الله


Insya Allah kajian kali ini kita selesaikan bab ke-8 yakni tentang fiqih haji dan umrah khusus bagi wanita.

15. Apabila wanita haidh setelah thawaf Ifadhah, maka dia boleh pergi meninggalkan Makkah kapan saja dia mau dan gugur baginya thawaf wada, berdasarkan hadits Aisyah رضي الله عنها, Aisyah berkata,

"Shafiyah bintu Huyai mendapati haidh setelah melakukan thawaf Ifadhah.  Aisyah berkata, 'Lalu aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, maka beliau bersabda,

أحابستنا هي؟
قلت:  يا رسول الله إنها قد إفاضت وطافت بالبيت، ثم حاضت بعد الإفاضة.
قال:  فلتنفر إذن

'Apakah kita tertahan karena dia?' Saya (Aisyah) berkata, 'Ya Rasulullah, dia telah ifadhah, dan telah melakukan thawaf di Ka'bah, lalu dia haidh setelah ifadhah.' Beliau bersabda, "Kalau begitu dia boleh pergi (meninggalkan Makkah).'" (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi)

Dan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما:

أمر الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت طوافا إلا أنه خفف عن المرإة الحائض.

" Orang-orang (yang haji) diperintahkan agar akhir persinggahan mereka adalah Ka'bah (thawaf wada, kecuali wanita haidh diberi keringanan (untuk tidak thawaf wada)." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Dari Ibnu Abbas juga bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم:

رخص للحائض أن تصدر قبل أن تطوف بالبيت إذا كانت قد طافت في الإفاضة

"Memberi rukhshah/keringanan bagi wanita haidh untuk keluar (dari Makkah) sebelum melakukan thawaf wada', jika dia telah melakukan thawaf ifadhah." (HR. Muslim, dan Ahmad)

Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah  dalam Al-Majmu (3/218), "Berkata Ibnul Mundzir rahimahullah,

'Ini adalah pendapat umumnya ahlul ilmi, di antaranya Malik, Al-Auzai, Ats-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Hanifah, dan lainnya.'"

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Al-Mughni (3/461),

"Ini adalah pendapat ulama fiqih pada umumnya di berbagai negri, beliau mengatakan, wanita nifas sama hukumnya dengan wanita haidh, karena hukum  nifas sama dengan hukum wanita haidh menyangkut hal yang wajib maupun yang gugur karenanya."

16. Wanita disunnahkan ZIARAH ke Masjid Nabawi untuk shalat dan berdoa di dalamnya.

Tapi tidak boleh ziarah ke KUBUR Rasulullah صلى الله عليه وسلم, karena wanita dilarang ziarah kubur.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh رحمه الله, Mufti Negara Saudi Arabia dalam Majmu Fatawanya (3/239),

"Yang benar dalam masalah dilarangnya kaum wanita ziarah ke kubur Rasulullah صلى الله عليه وسلم karena dua hal:

1). Keumuman dalil, sedangkan larangan jika datang secara umum, maka tidak boleh seorang pun memberi 'takhshish'/mengkhususkan, kecuali disertai dalil.

2). Sebab larangan telah ada di sini (yakni illah/alasan yang karenanya wanita dilarang berziarah kubur).

Berkata Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله, dalam kitab manasiknya, dalam pembahasan tentang ziarah kubur Rasulullah صلى الله عليه وسلم bagi orang yang ziarah ke Masjid Nabawi, beliau berkata,

"Ziarah kubur ini hanya disyariatkan bagi laki-laki saja. Sedangkan wanita tidak boleh ziarah kubur, sebagaimana riwayat hadits shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau

لعن زائرات القبور من النساء والمتخذين عليها المسجد والسرج

"Melaknat para wanita peziarah kubur, dan orang-orang yang mendirikan masjid di atas kuburan, dan menggantungkan lampu-lampu padanya."

Adapun tujuan ke Madinah untuk shalat di dalam Masjid Rasul صلى الله عليه وسلم juga untuk berdoa di dalamnya dan yang semisal itu dari yang telah disyariatkan dilakukan di masjid manapun, maka yang demikian itu disyariatkan untuk semua (laki-laki maupun wanita).

Selesai bab ke-8.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله والحمد لله رب العالمبن

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab hafizhahallah pada Rabu, 9 Dzulhijjah 1436 H / 23 September 2015





Nisaa` As-Sunnah
Kitab Tanbihat 'ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu'minat (Pertemuan 42) Kitab Tanbihat 'ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu'minat (Pertemuan 42) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah on September 23, 2015 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.