Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 52): BAB: TENTANG BEBERAPA KASUS YANG TERJADI PADA WANITA HAIDH

TENTANG BEBERAPA KASUS YANG TERJADI PADA WANITA HAIDH


KAJIAN  FIQIHDari kitab:Fiqh Al-Mar'ah Al-MuslimahPenulis : Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله



بســــــم اللـــــه الرحمــــن الرحيــــم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:



Saudaraku seiman, semoga Rahmat Allah dilimpahkan kepadaku dan kepada kalian semua.


BAB: TENTANG BEBERAPA KASUS YANG TERJADI PADA WANITA HAIDH


Kasus yang terjadi ada beberapa macam:


1. BERTAMBAH ATAU BERKURANG.

Misalnya, seorang wanita biasanya mendapat haidh selama 6 hari, ternyata darah terus keluar sampai 7 hari.
Atau biasanya haidh selama 7 hari, ternyata di hari ke-6 sudah suci.


2. MAJU atau MUNDUR

Misalnya, biasanya datang haidh di akhir bulan, ternyata datang haidh di awal bulan (maju), atau sebaliknya, biasa haidh di awal bulan, ternyata datang di akhir bulan (mundur/terlambat).

Terdapat khilaf di kalangan ulama dalam menghukumi dua kasus di atas.

Pendapat yang benar adalah:

Kapan saja darah keluar (dengan sifat-sifat darah haidh), maka dihukumi haidh, dan kapan saja darah berhenti, maka dihukumi telah suci, apakah keluarnya seperti biasa atau  bertambah dan berkurang lamanya, apakah maju atau mundur/terlambat datangnya, dalilnya telah kita kaji sebelum ini, di mana Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum haidh tergantung pada wujud/adanya DARAH haidh yang keluar.

Itu adalah pendapat dari madzhab Asy-Syafi'i, juga diikuti oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan dikuatkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab beliau Al-Mughni 1/353, beliau berkata,
"Andaikata haidh itu dibatasi harus sesuai dengan kebiasaan, pasti Nabi صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan untuk umatnya. Dengan tidak ada penjelasan, berarti beliau memperluas maknanya (yakni bisa maju atau mundur, bisa bertambah atau berkurang, pen.)
Dan tentunya tidak boleh menunda dan mengakhirkan keterangan tentang haidh tersebut, di mana istri-istri beliau dan para wanita di masa beliau sangat membutuhkan keterangan tersebut, juga tidak mungkin beliau terlupakan, maka yang ada keterangan dari beliau tentang haidh adalah dengan wujud/adanya darah yang keluar dengan sifat-sifat darah haidh maka dihukumi haidh, jika darah keluar tidak bersifat darah haidh maka dihukumi istihadhah, tidak ada lagi hukum selain itu." (selesai dari kitab Al-Mughni 1/353)


3. FLEK KUNING ATAU COKLAT

▫ Flek kuning= صفرة (shufrah)

▫ Flek coklat/keruh= كدرة (kudrah)


Flek kuning, seperti cairan dari luka (shufrah)

Flek coklat, antara warna kuning dan hitam (warnanya keruh)

Jika flek-flek itu keluar:

  • Bersamaan di hari-hari haidh, yakni di tengah-tengah haidh, atau keluarnya sebelum suci, maka itu termasuk HAIDH dan terdapat padanya hukum-hukum haidh.
  • Dan jika keluar flek-flek SETELAH SUCI (setelah mandi, keluar flek), maka dihukumi itu BUKAN HAIDH.

Berdasarkan dalil dari Ummu 'Athiyah رضي الله عنها:

كُنَّا لاَ نَعُدُّ الصُّفْرَةَ والْكُدْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئاً

"Kami dahulu tidak menghiraukan sedikitpun flek kuning dan coklat yang keluar setelah suci." (HR. Abu Dawud, dengan sanad shahih). Ada juga dalam riwayat Bukhari, tetapi tanpa lafazh بَعْدَ الطُّهْرِ (setelah suci), tapi Al-Bukhari menulis dalam kitabnya, Shahih Al-Bukhari dengan judul:
'Bab: Flek Kuning dan Coklat yang Keluar di Luar Waktu Haidh'.)


Dijelaskan dalam Syarahnya, yakni kitab Fathul Bari:

"Hal itu mengisyaratkan bolehnya menjamak/menggabung antara hadits Aisyah dan hadits Ummu Athiyah, di mana hadits Aisyah yang lalu telah kita kaji yaitu, perkataan Aisyah رضي الله عنها tentang waktu suci dari haidh :

حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ

"Sampai kamu melihat cairan putih (tanda sudah suci)."

Adapun hadits Ummu 'Athiyah, yaitu seperti yang baru kita kaji di atas.


CARA MENJAMAK:

Maksud Hadits Aisyah رضي الله عنها bahwa 'cairan putih' tanda suci, maka artinya cairan kuning atau coklat di hari-hari haidh dihukumi haidh, adapun cairan/flek kuning dan coklat jika keluar di luar hari-hari haidh  seperti yang dikatakan Ummu Athiyah, bahwa itu bukan haidh." (selesai penukilan dari kitab Fathul Bari).

Hadits Aisyah yang dita'liq oleh Bukhari, dijelaskan secara terperinci, bahwa para wanita bertanya dan datang berkali-kali kepada Aisyah dengan membawa sejenis kapas yang ada flek kuning, maka Aisyah رضي الله عنها berkata,

لا تعجلن حتى ترين القصة البيضاء

"Jangan terburu-buru (bersuci) sampai kamu melihat cairan putih." (HR. Bukhari)


'Qashah Al-Baidha'  adalah cairan putih yang keluar dari rahim, ketika berhentinya darah haidh (sebagai tanda telah suci).


4. DARAH HAIDH TERHENTI-HENTI, TIDAK LANCAR KELUARNYA, SEHARI KELUAR SEHARI TIDAK

Bersambung in sya Allah


Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Selasa, 17 Rabi'ul Awal 1437 H / 29 Desember 2015

🍥➖🍥➖🍥➖🍥


Channel Telegram:
http://bit.ly/NisaaAsSunnah



Nisaa` As-Sunnah
Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 52): BAB: TENTANG BEBERAPA KASUS YANG TERJADI PADA WANITA HAIDH Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 52): BAB: TENTANG BEBERAPA KASUS YANG TERJADI PADA WANITA HAIDH Reviewed by Nisaa` As-Sunnah on January 01, 2016 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.