Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 56): HARAM PUASA BAGI WANITA HAIDH

HARAM PUASA BAGI WANITA HAIDH


KAJIAN  FIQIH

 Dari kitab: Fiqh Al-Mar`ah Al-Muslimah

Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله




بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:





Saudaraku seiman, semoga rahmat Allah dilimpahkan kepadaku dan kepada kalian semua. 


Melanjutkan kajian fiqih, kita telah mengkaji hukum yang pertama bagi wanita haidh, yakni haram shalat.

Sekarang kita kaji point berikutnya:

2. HARAM PUASA BAGI WANITA HAIDH

Baik puasa fardhu maupun puasa sunnah, dan tidak sah puasanya wanita yang sedang haidh.
Tapi wajib baginya mengqadha puasa yang ditinggalkan. 
Berdalilkan hadits Aisyah رضي الله عنها berkata, "Kami dahulu juga mengalami haidh, maka 


 نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْم وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَة



"Kami diperintah mengqadha puasa, dan kami tidak diperintah mengqadha shalat." (HR. Bukhari Muslim)



Apabila seorang wanita haidh ketika sedang puasa, maka puasanya BATAL, meskipun haidh datang beberapa menit sebelum tenggelam matahari/maghrib, dan wajib baginya QADHA puasa di hari itu jika dia telah suci, apabila itu puasa fardhu.

Adapun jika dia hanya MERASA seperti haidh ketika menjelang maghrib, tapi darah masih belum keluar ketika itu, barulah darah keluar ketika maghrib, maka puasanya hari itu SAH, yakni puasanya hari itu tidak batal  karena darah yang masih di dalam, yakni belum keluar, tidak dihukumi haidh.

Karena Nabi صلى الله عليه وسلم ketika ditanya tentang seorang wanita yang bermimpi seperti halnya laki-laki bermimpi (mimpi jima'), apakah si wanita wajib mandi? beliau menjawab:


نَعًمْ، إِذَا هِيَ رَأَتْ الْمَاء



"Ya, jika dia melihat air mani." (HR. Bukhari Muslim)



Maka hukumnya digantungkan pada melihat air mani, bukan pada perasaan. 

Begitu pula haidh, tidak ditetapkan hukum-hukumnya, kecuali jika melihat keluarnya darah, bukan ditentukan dengan perasaan, (sepertinya sudah keluar darah, padahal kenyataannya belum keluar darah, pen.)

Apabila telah terbit fajar/shubuh, dalam keadaan masih haidh, yakni belum suci, maka puasanya hari itu tidak sah, meskipun dia baru suci setelah fajar/shubuh.

Apabila suci beberapa menit SEBELUM shubuh, maka puasanya hari itu SAH, meskipun dia belum mandi suci, yakni meskipun dia baru sempat mandi setelah fajar shubuh.

Seperti halnya orang JUNUB, jika dia NIAT puasa dalam keadaan junub dan belum mandi, dan baru sempat mandi setelah adzan shubuh, maka puasanya SAH, berdasarkan hadits Aisyah رصي الله عنها berkata,


كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْراحْتِلاَمٍ ثُمَّ يَصُوْمُ فِي رَمَضَان.



"Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم di waktu shubuh dalam keadaan junub karena jima' bukan karena mimpi, kemudian beliau puasa Ramadhan." (HR. Bukhari Muslim)



Yakni, beliau niat puasa dalam keadaan junub, belum mandi, kemudian barulah beliau mandi suci dari junub setelah shubuh, maka puasanya yang seperti itu SAH.

3. HARAM THAWAF

Haram bagi wanita haidh untuk melakukan thawaf di Ka'bah, baik thawaf fardhu maupun thawaf sunnah, dan tidak sah thawaf wanita yang sedang haidh.
Dalilnya hadits Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Aisyah رضي الله عنها ketika haidh:


إفْعَلِيْ مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْر اَلاَّ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِيْ



"Lakukan apa yang dilakukan orang yang haji, kecuali janganlah kamu thawaf di Ka'bah sampai kamu suci." (HR. Muslim)



Adapun yang lainnya, seperti:

  • sa'i antara Shafa dan Marwah,
  • wuquf di Arafah,
  • bermalam di Muzdalifah dan Mina,
  • melempar jumrah,
  • dan lain-lain dari manasik haji dan umrah, TIDAK haram bagi wanita haidh.


Berdasarkan hal itu maka, apabila ada seorang wanita thawaf dalam keadaan suci sampai selesai thawafnya, lalu datang haidh setelah selesai thawaf, maka boleh dia langsung melaksanakan sa'i, begitu pula jika datang haidh di tengah dia sedang melaksanakan sa'i, maka tidak mengapa dia meneruskan sa'inya sampai selesai, dan sah sa'inya.

4. GUGURNYA THAWAF WADA' BAGI WANITA HAIDH
Bersambung in sya Allah


Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Selasa, 23 Rabi'ul Akhir 1437 H / 3 Februari 2016

Akhawati fillah, jika ada yang tidak difahami, silakan dicatat untuk ditanyakan ketika jadwal Tanya Jawab pekan ini. Barakallahu fikunna.


Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Fiqh Al-Mar`ah Al-Muslimah yang telah berlalu, silakan kunjungi website kami
http://annisaa.salafymalangraya.or.id

Channel Telegram
http://bit.ly/NisaaAsSunnah



Nisaa` As-Sunnah


Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 56) halaman 82.b


Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 56) halaman 83.a









Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 56): HARAM PUASA BAGI WANITA HAIDH Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 56): HARAM PUASA BAGI WANITA HAIDH Reviewed by Nisaa` As-Sunnah on February 02, 2016 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.