AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 15): MENGHADAP DAN MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA BUANG HAJAT

MENGHADAP DAN MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA BUANG HAJAT


KAJIAN FIKIH
Dari kitab:
AL-FIQHU AL-MUYASSAR
(=FIKIH PRAKTIS)



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Akhawati fillah, semoga rahmat Allah dicurahkan untukku dan untuk kalian semua.

Melanjutkan kembali kajian kitab Al-Fiqhul Muyassar, kita telah sampai pada Bab Ketiga tentang Buang Hajat dan Adab-Adabnya, bagian pertama telah selesai kita kaji, sekarang kita kaji bagian kedua:

BAGIAN KEDUA:

MENGHADAP DAN MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA BUANG HAJAT

Tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat di tanah terbuka tanpa ada penutup, berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة ولا تستدبروها، ولكن شرقوا أو غربوا

"Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat."

Keterangan pen.:

"Perintah dalam hadits di atas hanya khusus untuk penduduk MADINAH, karena letak kota Madinah berada di Utara kota Makkah, begitu juga kota-kota lain yang kiblatnya menghadap Utara."

Abu Ayyub berkata,

"Kami datang ke Syam, lalu kami dapati banyak WC telah dibangun menghadap Ka'bah (kiblat), maka kami berpaling darinya (menghadap ke arah lain), dan kami beristighfar memohon ampun kepada Allah."  (Muttafaqun alaih, HR. Bukhari Kitab Al-Wudhu', no.144 dan Muslim, no.264)

Adapun jika buang hajat:
di dalam bangunan, atau 
ada penutup antara dirinya dengan kiblat,
maka hal itu tidak mengapa (boleh meskipun menghadap kiblat).

Berdasarkan hadits Ibnu Umar رضي الله عنه,

أنه رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم يبول في بيته مستقبل الشام مستدبر الكعبة

"Bahwa dia melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم  buang air kecil di rumahnya menghadap ke Syam dan membelakangi Ka'bah." (Muttafaqun alaih, HR. Bukhari, no. 148, dan Muslim, no. 266)

Dan berdasarkan hadits Marwan Al-Ashghar, dia berkata,

أناخ ابن عمر بعيره مستقبل القبلة، ثم جلس يبول إليه، فقلت: يا أبا عبد الرحمن،  أليس قد نهي عن هذا؟

قال: بلى إنما نهي عن هذا في الفضاء ،  أما إذا كان بينك وبين القبلة شيئ يسترك فلا بأس

"Ibnu Umar menambatkan untanya menghadap kiblat, lalu dia duduk kencing menghadap ke arahnya (kiblat), maka saya bertanya, 'wahai Abu Abdirrahman, bukankah hal ini telah dilarang?'

Dia menjawab, 'Ya benar, akan tetapi yang dilarang dari hal tersebut jika dilakukan di tempat terbuka, adapun jika antara kamu dan kiblat ada sesuatu yang menutupimu, maka tidak mengapa'." (HR. Abu Dawud, Ad-Daruquthni, dan Al-Hakim)

Dan yang lebih UTAMA adalah meninggalkannya (tidak menghadap kiblat atau membelakangi kiblat) meskipun di dalam bangunan. Wallahu a'lam

Bersambung

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 14 Dzulqa'dah 1437 H / 17 Agustus 2016 M

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan ketika jadwal Tanya Jawab, hari Kamis dan Jum'at pekan pertama bulan depan

Barakallahu fikunna

○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqh Al-Muyassar, silakan mengunjungi:

Website
      ● http://annisaa.salafymalangraya.or.id

Channel Telegram
      ● http://bit.ly/nisaaassunnah
      ● http://bit.ly/fiqihmukminah



Nisaa` As-Sunnah
AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 15): MENGHADAP DAN MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA BUANG HAJAT AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 15): MENGHADAP DAN MEMBELAKANGI KIBLAT KETIKA BUANG HAJAT Reviewed by Nisaa` As-Sunnah on September 30, 2016 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.