AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 19): SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHRAH

SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHRAH


KAJIAN FIKIH
Dari kitab:
AL-FIQHU AL-MUYASSAR
(FIKIH PRAKTIS)



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Akhawati fillah, semoga rahmat Allah dicurahkan untukku dan untuk kalian semua.

BAB KEEMPAT

SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHRAH

Bab ini terdiri dari beberapa bagian:

SIWAK yaitu menggunakan ranting atau semisalnya pada gigi atau gusi, untuk membersihkan sisa-sisa makanan atau bau tak sedap yang ada pada gigi atau gusi.

1. Bagian Pertama:

HUKUM SIWAK:

Siwak hukumnya SUNNAH di semua waktu, sehingga orang yang sedang berpuasa tidak mengapa andaikata dia bersiwak, sama saja, baik di waktu pagi atau sore, karena Nabi _صلى الله عليه وسلم_ menganjurkannya secara mutlak tanpa membatasinya dengan waktu tertentu, di mana beliau bersabda,

السواك مطهرة للفم مرضاة للرب

"Siwak itu alat pembersih mulut dan mendatangkan ridha Rabb." (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasa`i)

Dan beliau _صلى الله عليه وسلم_ juga bersabda,

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

"Seandainya aku tidak memberatkan umatku, sungguh aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali akan shalat." (HR. Muttafaqun alaihi)

2. KAPAN DITEKANKAN?

Bersiwak itu ditekankan ketika:

berwudhu,
bangun tidur,
bau mulut berubah,
membaca Al-Quran,
akan shalat,
masuk masjid, dan
masuk rumah.

Berdasarkan hadits Al-Miqdam bin Syuraih dari bapaknya, dia berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah _رضي الله عنها_:

قلت:  بأي شيء كان يبدأ النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل بيته؟ قالت: بالسواك

"Aku bertanya,  'Apabila masuk rumahnya, dengan apa Nabi صلى الله عليه وسلم memulai?' Dia menjawab, 'Dengan bersiwak'." (HR. Muslim)

Ditekankan juga untuk bersiwak ketika:

diam lama, dan
gigi menguning.

Berdasarkan hadits-hadits di atas, dan juga hadits berikut:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام من الليل يشوص فاه بالسواك

"Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika bangun tidur di malam hari, maka beliau menggosok mulutnya dengan siwak." (HR. Muttafaqun alaihi)

Seorang Muslim diperintahkan ketika beribadah dan bertaqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah agar dalam keadaan terbaik dalam kebersihan dan kesuciannya.

3. DENGAN APA BERSIWAK?

Disunnahkan bersiwak dengan menggunakan RANTING BASAH yang:

tidak (mudah) hancur, dan
tidak melukai mulut.

Karena Nabi _صلى الله عليه وسلم_  bersiwak dengan menggunakan ranting pohon Arak.

Boleh bersiwak (memegang siwak) dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri. Perkaranya dalam masalah ini luas.

Apabila pada saat berwudhu dia tidak memiliki siwak, maka bisa bersiwak dengan JARI TANGANNYA, sebagaimana diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib _رضي الله عنه_ tentang sifat wudhu Nabi _صلى الله عليه وسلم. (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnad, 1/158, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Al-Habir, 1/70)

4. FAEDAH-FAEDAH SIWAK

Bersambung insya Allah

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 19 Dzulhijjah 1437 H / 21 September 2016 M

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan ketika jadwal Tanya Jawab, hari Kamis dan Jum'at pekan pertama bulan depan

Barakallahu fikunna


Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqh Al-Muyassar, silakan mengunjungi:

Website
      ● http://annisaa.salafymalangraya.or.id

Channel Telegram
      ● http://bit.ly/nisaaassunnah
      ● http://bit.ly/fiqihmukminah



Nisaa` As-Sunnah
AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 19): SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHRAH AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 19): SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHRAH Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 1 on October 01, 2016 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.