AL-FIQH AL-MUYASSAR (Pertemuan 95)




Pertemuan : 95

   KAJIAN FIKIH


Dari kitab:
AL-FIQH AL-MUYASSAR
(FIKIH PRAKTIS)


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

BAGIAN KEEMPAT

4. DENGAN APA SHALAT BERJAMAAH DIDAPATKAN

 Shalat berjamaah didapatkan dengan mendapatkan satu rakaat dari shalat. Dan barang siapa mendapatkan RUKUK tanpa keraguan, maka dia telah mendapatkan satu rakaat, dan tuma'ninah, kemudian mengikuti imam. Berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه:

إذا جئتم إلى الصلاة ونحن سجود فاسجدوا،  ولا تعدوها شيئا ومن أدرك ركعة فقد أدرك الصلاة.

"Apabila kalian mendatangi shalat dan kami sedang sujud, maka sujudlah kalian, tapi jangan menganggapnya sebagai satu rakaat,  dan barang siapa  mendapatkan satu rakaat,  maka sungguh dia telah mendapatkan satu shalat." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

 BAGIAN KELIMA

5. SIAPA YANG DIBERI UZUR UNTUK MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH

Seorang muslim diberi uzur untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam beberapa keadaan berikut:

1.  SAKIT

Orang sakit dengan penyakit yang membuatnya sulit untuk pergi shalat berjamaah.
Berdasarkan firman Allah ta'ala,

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ ۗ 

"Tidak ada dosa bagi orang-orang buta, tidak ada dosa bagi orang-orang pincang, juga tidak ada dosa bagi orang yang sakit." (QS. Al-Fath: 17)

Dan karena ketika Nabi صلى الله عليه وسلم sakit, beliau tidak shalat berjamaah di masjid.  Beliau bersabda,

مروا أبا بكر فليصل بالناس 


"Kalian suruhlah Abu Bakr agar shalat mengimami orang-orang."  (Muttafaqun 'alaih)

Dan berdasarkan perkataan Ibnu Mas'ud رضي الله عنه,

ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق قد علم نفاقه أو مريض.

"Sungguh aku telah melihat (keadaan) kami, tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah,  kecuali orang munafik dengan kemunafikan yang jelas diketahui, atau orang yang sedang sakit." (HR. Muslim)

Termasuk juga orang yang takut mengalami sakit, karena dia semakna dengan orang yang sakit.

1. ORANG YANG MENAHAN DUA HAJAT (BUANG AIR KECIL DAN BESAR) DAN ORANG LAPAR KETIKA MAKANAN SUDAH DIHIDANGKAN

Berdasarkan hadits Aisyah رضي الله عنها yang marfu':

لا صلاة بحضرة طعام رلا هو يدافع الأخبثين

"Tidak ada shalat ketika makanan sudah dihidangkan, dan tidak juga ketika dia menahan dua buang hajat." (HR. Muslim)

Bersambung insya Allah



Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 2 Muharran 1440 H / 12 September 2018 M

====°°°°====°°°°====°°°°====

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

Barakallahu fikunna

#NAMuyassar #NAM95
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

🖥 Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar, silakan mengunjungi:
Channel Telegram:
       ● http://t.me/NAmuyassar
Website: 
       ● http://www.nisaa-assunnah.com

🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀
AL-FIQH AL-MUYASSAR (Pertemuan 95) AL-FIQH AL-MUYASSAR (Pertemuan 95) Reviewed by Nisaa As-Sunnah 2 on September 13, 2018 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.