Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan ke-115)




Penulis:
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى

📗 Syarah/Penjelasan oleh:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد

✅ 6. Kita melihat seseorang  bersemangat untuk mendapatkan suatu perkara dunia sampai dia berhasil mendapatkannya dan dia tidak mau berganti memperoleh sesuatu yang tidak dia sukai dan setelah itu dia tidak mau berhujjah (beralasan) bahwa sikapnya tersebut merupakan takdir. Akan tetapi mengapa dalam perkara agama dia justru meninggalkan sesuatu yang bermanfaat  dan bahkan memilih sesuatu yang merugikan, lalu setelah itu dia berhujjah/berdalih dengan takdir?! Bukankah kedua masalah tersebut sama?!

🔎 CONTOH-CONTOH yang memperjelas masalah ini:

🛣 Seandainya di hadapan seseorang ada dua jalan, jalan pertama:

1. Mengantarkan dia ke sebuah negeri yang kacau balau semuanya, terjadi pembunuhan, perampokan, pelanggaran terhadap kehormatan orang lain, merata tersebar ketakutan dan kelaparan.

🔓 Jalan kedua:
2. Mengantarkan ke sebuah negeri yang serba teratur, aman terkendali, penuh kesejahteraan, menghargai setiap jiwa, kehormatan, dan harta benda.

Maka jalan mana yang akan dia tempuh❓

☑ Pasti dia akan menempuh jalan kedua yang akan mengantarkannya ke negeri yang teratur dan aman dan orang yang berakal tidak mungkin menempuh jalan yang mengantarkannya ke negeri yang penuh kekacauan dan ketakutan, kemudian dia berhujjah/ beralasan dengan takdir (dengan mengatakan, "Aku menempuh jalan ini karena sudah ditakdirkan!". Keterangan pen. ).

🔎 Maka mengapa dalam perkara akhirat dia menempuh jalan ke neraka bukan jalan ke surga, lalu berhujjah/berdalih (menyalahkan) takdir❓

🔖 CONTOH LAIN:

🔎 Kita melihat seorang yang sakit diperintah untuk minum obat, lalu dia meminumnya meskipun dia tidak suka dan jika dia dilarang makan dari jenis makanan yang membahayakannya, maka dia tidak memakannya meskipun dia menyukainya, semua itu dia lakukan karena ingin sembuh dan sehat. Dan tidak mungkin dia menolak minum obat, atau makan dari jenis makanan yang berbahaya  untuk dirinya lalu berhujjah/beralasan dengan takdir❗

🔎 Lalu mengapa manusia
👉 meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau
👉 mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian berdalih (menyalahkan) takdir❓❗

✍ Keterangan penerjemah:

Artinya bahwa, semua itu adalah pilihan manusia itu sendiri, dia sendiri yang memilih jalan ke neraka, dia sendiri yang cenderung dan lebih suka melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, maka oleh karena itulah mereka berhak mendapat hukuman karena pilihan/ikhtiar mereka yang salah. (Selesai keterangan, pen. )

✅ 7. Bersambung insya Allah

•••━══ ❁✿❁ ══━•••

✍🏼 Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Kamis, 25 Jumadil Awwal 1440 H / 31 Januari 2019.
__________📘

🛑 Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

🍃Barakallahu fikunna 🍃

#NATauhid #NAT115
====================

📡 Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Tsalatsatul Ushul yang telah berlalu, silakan mengunjungi:
📠 Channel Telegram
      ● http://t.me/NAtauhid
      ● http://t.me/nisaaassunnah
🌐 Website
      ● http://www.nisaa-assunnah.com/p/natauhid.html
      ● http://www.nisaa-assunnah.com

🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀
Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan ke-115) Kajian Tauhid Kitab   Tsalatsatul Ushul  (Pertemuan ke-115) Reviewed by NISAA2 on February 07, 2019 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.