Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan ke-116)



Penulis:
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى

📗 Syarah/Penjelasan oleh:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد

7. Bahwa orang yang berhujjah (beralasan) dengan takdir untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan maksiat, seandainya dia disakiti oleh orang lain lalu hartanya diambil atau dirusak kehormatannya, lalu orang yang menyakitinya itu beralasan dengan takdir, dan berkata,  'Jangan mencelaku, karena perbuatanku yang menyakitimu ini adalah karena takdir Allah.' Maka dia yang disakiti itu tidak mau menerima alasan dengan takdir dari orang yang telah menyakitinya tersebut.
Maka Bagaimana dia bisa menolak alasan takdir dari orang lain yang menyakitinya, akan tetapi dia beralasan dengan takdir bagi dirinya sendiri dalam melanggar hak Allah ta'ala?

🔎 Disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه menerima pengaduan tentang seorang pencuri yang dihukum dengan dipotong tangannya, maka beliau memerintahkan untuk memotong tangan pencuri itu, lalu pencuri itu berkata, "Tunggu wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku mencuri karena takdir Allah". Maka Umar menjawab, "Sesungguhnya kami menghukum dengan memotong tangan juga karena takdir Allah."

🔎 BUAH IMAN KEPADA TAKDIR 🔍

📌 Antara lain:

1. BERSANDAR KEPADA ALLAH TA'ALA ketika melakukan usaha/ikhtiar dan tidak bersandar pada ikhtiarnya sendiri, sebab segala sesuatu terjadi karena takdir Allah ta'ala.

2. SUPAYA ORANG TIDAK  BANGGA DIRI  ketika tercapai keinginannya, karena keberhasilannya merupakan nikmat dari Allah, dengan sebab yang telah ditakdirkan-Nya berupa ikhtiar yang baik dan keberhasilan. Sedangkan bangga diri akan membuatnya lupa bersyukur atas nikmat tersebut.

3. MERASA TENANG DAN LAPANG DADA
Terhadap takdir Allah ta'ala yang terjadi pada dirinya, sehingga dia tidak gelisah ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya, atau ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukainya. Karena semua itu terjadi dengan takdir Allah yang memiliki kekuasaan di langit dan di bumi, dan hal itu pasti akan terjadi.

▪Allah ta'ala berfirman:

مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اِلَّا فِیۡ کِتٰبٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّبۡرَاَہَا ؕ اِنَّ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرٌ. لِّکَیۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰی مَا فَاتَکُمۡ وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰىکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۣ

"Tidak ada satu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri-diri kalian, kecuali telah dicatat dalan kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar supaya kalian tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu bersuka cita terhadap apa yang Allah berikan kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid: 22-23)

▪ Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء سكر فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له.

"Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik dan itu tidak ada pada seorang pun, kecuali ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur dan itu baik baginya, dan jika mendapat kesusahan dia bersabar dan itu baik baginya." (HR. Muslim)


•••━══ ❁✿❁ ══━•••

✍🏼 Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Kamis, 16 Jumadits Tsani 1440 H / 21 Februari 2019.
__________📘

🛑 Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

🍃Barakallahu fikunna 🍃

#NATauhid #NAT116
====================
Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan ke-116) Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul  (Pertemuan ke-116) Reviewed by NISAA.ASSUNNAH2 on March 04, 2019 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.