Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 22)



 http://t.me/NAmanhaj

Pertemuan 22

KAJIAN MANHAJ

Dari kitab:
Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if
(Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Mengkritisi Orang, Kitab dan Golongan)

Penulis:
Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali حفظه الله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Para ulama salaf menjauhi perawi-perawi dari kalangan ahlul bid'ah dan dari orang-orang yang tertuduh agamanya.

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata:

"Sesungguhnya kita dahulu jika mendengar seseorang berkata,  'Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda...', maka kami penuh perhatian dan fokus kepadanya, dan kami pasang telinga-telinga kami. Akan tetapi setelah keadaan berubah,  manusia telah menunggangi yang liar maupun yang jinak (yakni manusia tidak lagi peduli orang berbicara benar atau salah, pen.), maka kami tidak lagi mengambil riwat dari manusia kecuali yang kami ketahui kesahihannya." (Dalam mukaddimah Shahih Muslim 1/13-15).

Ibnu Sirin رحمه الله berkata:

"Mereka dahulu (yakni para ulama salaf) tidak bertanya tentang sanad, akan tetapi setelah terjadi fitnah, mereka senantiasa berkata, 'Sebutkan kepada kami nama-nama perawi kalian.' Mereka hanya menerima dari perawi ahlussunnah dan mengambil haditsnya dan tidak menerima dari ahlul bid'ah juga tidak mengambil haditsnya." (Mukaddimah Shahih Muslim 1 /13-15).

Perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Sirin di atas mengandung makna bahwa ini adalah madzhab umum bagi ulama salaf di masa para sahabat dan ulama  setelah mereka dari generasi para tabi'in.

Hal itu terjadi karena mereka mengetahui bahwa mereka tidak membutuhkan riwayat dari ahlul bid'ah, maka mereka menyikapi riwayat dari ahlul bid'ah dengan sikap yang jelas dan tegas.

Akan tetapi generasi setelah mereka dari para ulama terpaksa menerima riwayat dari orang-orang yang jujur dari kalangan ahlul bid'ah,  mereka mengambil riwayat dengan beberapa syarat dan penuh kehati-hatian untuk mengambil riwayat yang benar dan menolak riwayat hadits yang lemah dan yang disisip-sisipkan (hadits-hadits) palsu.

Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ya'qub Al-Jauzajani رحمه الله berkata:

"Di antara mereka para perawi hadits ada yang menyimpang dari kebenaran, tapi mereka jujur dan haditsnya beredar luas di antara manusia; jika mereka tercela dalam kebid'ahannya tapi terpercaya dalam periwayatannya, maka menurut saya, mereka ini tidak ada alasan untuk ditolak haditsnya, selama yang diterima itu adalah hadits-hadits yang ma'ruf dan tidak menguatkan kebid'ahannya.

2. SIAPA YANG BOLEH DIGHIBAH

Bersambung insya Allah

•••━════━•••

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Senin, 2 Sya'ban 1440 H / 8 April 2019.
______

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

Barakallahu fikunna

#NAManhaj #NAManhaj22
======================

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if yang telah berlalu, silakan mengunjungi:
Channel Telegram
      ● http://t.me/NAmanhaj
      ● http://t.me/nisaaassunnah
Website
      ● http://www.nisaa-assunnah.com/p/namanhaj.html
      ● http://www.nisaa-assunnah.com

Nisaa` As-Sunnah

Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 22) Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 22) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 4 on September 04, 2019 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.