KITAB TAUHID : Tsalatsatul Ushul ( Pertemuan ke - 143 )





┏━━━━━━━━━━━━━━━━━━━┓

 KAJIAN      TAUHID 

┗━━━━━━━━━━━━━━━━━━━┛




Dari kitab:


Tsalatsatul Ushul

(Tiga Landasan Utama)




Penulis:


Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى




Syarah/Penjelasan oleh:



Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله





بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد






MATAN/ISI KITAB:





فلما استقر بالمدينة أمر ببقية شرائع الإسلام مثل : الزكاة، والصوم، والحج، والجهاد والأذان، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وغير ذلك من شرائع الإسلام.


"Ketika Nabi Muhammad telah menetap di Madinah, beliau diperintahkan (menjalankan) syariat Islam yang lain seperti zakat, puasa, haji, jihad, adzan, amar ma'ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam yang lain."





SYARH/PENJELASAN:




Penulis رحمه الله تعالى berkata, "Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم telah menetap di Madinah An-Nabawiyyah, beliau diperintahkan menjalankan syariat Islam yang lain."


Hal itu karena ketika beliau masih tinggal di Makkah beliau hanya berdakwah kepada tauhid selama 10 tahun, setelah itu mendapat kewajiban shalat lima waktu.


Kemudian beliau hijrah ke Madinah dalam keadaan belum diwajibkan zakat, puasa, haji dan syariat-syariat Islam yang lain.


Yang nampak dari perkataan penulis رحمه الله bahwa dasar kewajiban zakat serta perinciannya baru diwajibkan di Madinah, dan sebagian ulama berpendapat bahwa zakat pertama kali diwajibkan di Makkah, akan tetapi belum ditetapkan kadar nishabnya, dan apa saja yang wajib dizakati, dan ketika di Madinah barulah ditentukan kadar nishab dan apa saja yang wajib dikeluarkan zakatnya, dan mereka berdalil bahwa ayat-ayat yang mewajibkan zakat ada dalam surat Makkiyah (yakni surat yang diturunkan sebelum hijrah), seperti firman Allah ta'ala dalam surat Al-An'am:




وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ


"Dan berikanlah haknya (keluarkan zakatnya) di hari panennya." (QS Al-An'am: 141)



Dan firman Allah ta'ala:





وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ. لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ


"Dan orang-orang yang di dalam hartanya ada hak tertentu untuk orang (miskin) yang meminta-minta, dan untuk orang (miskin) yang tidak mau meminta-minta." (QS. Al-Ma'arij: 24-25)



Bagaimanapun juga yang jelas bahwa penetapan syariat zakat, ukuran nishabnya, apa saja yang wajib di-zakati, dan orang-orang yang berhak menerima zakat, diturunkan di Madinah.


Begitu pula syariat adzan dan shalat Jum'at, juga secara zhahir disyariatkannya shalat berjamaah, tidaklah diwajibkan kecuali ketika di Madinah. Karena adzan yang mengandung seruan untuk melakukan shalat berjamaah baru diwajibkan pada tahun kedua Hijriyyah.



Adapun zakat dan puasa juga diwajibkan pada tahun kedua Hijriyyah.


Sedangkan haji tidak disyariatkan kecuali pada tahun ke- 9 Hijriyyah, berdasarkan pendapat yang kuat dari para ulama, hal itu karena Makkah telah menjadi negeri Islam setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) yang terjadi pada tahun ke- 8 Hijriyyah.



Demikian pula syariat amar ma'ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam yang zhahir lainnya, semua diwajibkan di Madinah setelah Nabi صلى الله عليه وسلم menetap di sana dan negeri Islam telah berdiri di Madinah.



•••━══ ❁✿❁ ══━•••



Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Kamis, 8 Rabi'ul Akhir 1441 H / 5 Desember 2019.



Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.



Barakallahu fikunna



#NATauhid #NAT143


====================


Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Tsalatsatul Ushul yang telah berlalu, silakan mengunjungi:



Channel Telegram


http://t.me/NAtauhid




Website 





Lebih baru Lebih lama