Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 206 )



KAJIAN FIKIH 





Dari kitab:

Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah



Penulis:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله




بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:





DALIL WAJIBNYA KAFFARAH BAGI ORANG YANG MELAKUKAN JIMA' DI BULAN RAMADHAN



 Hadits dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:




أن رجلا أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : هلكت، قال: "ما أهلكك؟" قال : وقعت على امرأتي في رمضان وأنا صائم. فسأله النبي.: "هل تجد رقبة؟" فقال : لا، قال : "هل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟" قال.: لا، قال : "هل تستطيع أن تطعم ستين مسكينا؟" قال : لا. ثم جلس الرجل فجيء إلى النبي صلى الله عليه وسلم بتمر، فقال : "خذ هذا وتصدق به"، قال: على أفقر مني يا رسول الله، والله ما بين لأبتيها أهل البيت أفقر مني. فضحك النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال : "أطعمه أهلك"، فرجع إلى أهله بالتمر. رواه البخاري و مسلم.




"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sambil berkata:

Aku telah binasa."

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya,
"Apa yang menyebabkan kamu binasa?"


Orang tersebut menjawab, "Aku telah menjimaki istriku di bulan Ramadhan dalam keadaan aku berpuasa."

Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya,
"Apakah kamu mempunyai budak?"


Dia menjawab, "Tidak"
Nabi bertanya lagi, "Apakah kamu mampu puasa dua bulan berturut-turut?"


Dia menjawab, "Tidak"

Nabi bertanya lagi, "Apakah kamu mampu memberi makan untuk enam puluh orang miskin?"



Dia menjawab, "Tidak"
Kemudian dia duduk, lalu didatangkan kurma (sedekah) kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, maka beliau berkata, "Ambillah kurma ini dan sedekahkan."

Orang tersebut berkata, "Kepada orang yang lebih miskin dariku, ya Rasulullah, Demi Allah tidak ada di antara tempat ini keluarga yang lebih miakin dariku."
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم tertawa kemudian berkata, "Berilah kurma ini untuk makan keluargamu."


Lalu orang tersebut kembali kepada keluarganya dengan kurma."
(Muttafaqun 'alaih)


Orang tersebut tidak bodoh tentang hukum jimak, akan tetapi dia hanyalah tidak memahami apa yang wajib dilakukan sebagai kaffarah untuk orang yang telah melakukan jimak.



PERMASALAHAN PERTAMA


1. Bagaimana kaffarah bagi orang yang melakukan jimak dua hari?


Contohnya, hari pertama jmak, dan hari kedua jimak lagi



Jawaban:


Dia wajib membayar kaffarah dua kali, karena setiap hari merupakan ibadah yang berdiri sendiri, dan puasanya bukan hanya batal pada satu hari yang pertama saja, akan tetapi puasanya batal di dua hari tersebut. Ini pendapat yang pertama.

Adapun pendapat yang kedua, dia hanya wajib membayar kaffarah satu kali, sebagaimana orang yang melanggar sumpahnya.

Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin رحمه الله berkata, "Pendapat yang kedua ini jika dianggap benar masih perlu diperinci lagi, akan tetapi tidak seharusnya berfatwa (berpendapat) seperti ini, sebab dengan fatwa seperti ini akan membuat orang bermudah-mudahan merusak kehormatan semua hari-hari di bulan Ramadhan."



PERMASALAHAN KEDUA:



2. Seseorang melakukan jimak dua kali dalam sehari di bulan Ramadhan, bagaimana kaffarahnya?



Bersambung insya Allah


•••━══ ❁✿❁ ══━•••


Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Selasa, 19 Jumadil Awwal 1441 H / 14 Januari 2020 M.


Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.



Barakallahu fikunna


#NAFiqih #NAFQ206

===================

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah yang telah berlalu, silakan mengunjungi:


Channel Telegram


Website 








Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 206 ) Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 206 ) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 6 on January 15, 2020 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.