Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 215 )




KAJIAN FIKIH



Dari kitab:

Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah



Penulis:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله



KITABUSH SHIYAM (KITAB TENTANG PUASA) ~ Pertemuan 27


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:



3. PUASA SUNNAH 6 HARI SYAWAL



Yang afdhal dilakukan:


langsung setelah 'Id (yakni di hari ke 2 Bulan Syawal), karena hal itu menunjukkan bersegera/belomba-lomba dalam kebaikan

dan afdhal juga dikerjakan berurutan (6 hari langsung), sebab secara umum hal itu lebih mudah.



Catatan:


Hari kedelapan Syawal menurut kebanyakan orang di kalangan kami dinamakan Idul Abrar, yakni 'Id untuk orang-orang yang puasa 6 hari Syawal, penamaan ini adalah bid'ah, karena mengandung makna bahwa orang yang tidak puasa 6 hari Syawal tidak termasuk orang-orang abrar, dan ini salah.



4. PUASA SUNNAH AL-MUHARRAM


Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim berkata, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:


أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم.


"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Al-Muharram." HR. Muslim (1163)



Yang paling ditekankan yaitu pada tanggal 10 kemudian tanggal 9. Berdasarkan hadits riwayat Muslim, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم ditanya tentang puasa Asyura (tanggal 10 Muharram), maka beliau bersabda:


أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله.


"Aku berharap kepada Allah agar menjadi kaffarah (penghapus dosa) setahun sebelumnya."



dan sabda beliau صلى الله عليه وسلم:


لأن بقيت، او لأن عشت، إلى قابل لأصومن التاسع.


"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan puasa tanggal 9." HR. Muslim (1134)



Syaikhul Islam رحمه الله berkata,

"Tidak makruh jika berpuasa hanya sehari, yakni tanggal 10 Al-Muharram."


Beliau juga berkata dalam kitab Al-Hasyiyah, Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,

"Urutan puasa Al-Muharram ada tiga:

1. Yang paling sempurna adalah puasa sehari sebelumnya dan sehari setelahnya (yakni puasa tanggal 9, 10, 11 Muharram).

2. Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, ini berdalilkan banyak hadits.

3. Puasa hanya satu hari, yakni hanya pada tanggal 10.

Tanggal 10 bulan Al-Muharram ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, dan membinasakan Fir'aun dan kaumnya.



5. PUASA 9 HARI DI BULAN DZULHIJJAH


Yang paling utama dari 9 hari tersebut adalah hari Arafah, yakni puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang malakukan ibadah haji. Berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,


ما من ايام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الايام العشر.


"Tidak ada hari yang amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari sepuluh (Dzulhijjah) ini." HR. Al-Bukhari (926).



Dan puasa termasuk dari amal shalih.



6. PUASA SUNNAH YANG PALING AFDHAL

Adalah sehari puasa dan sehari berbuka (puasa Dawud), jika tidak menyia-nyiakan apa yang Allah wajibkan padanya.


Dalilnya:


Bahwa sahabat Abdullah bin Amr رضي الله عنه berkata,


لأصومن النهار ولا أفطر، ولأقومن الليل ولا انام.


"Sungguh aku akan puasa di siang hari (setiap hari) dan tidak berbuka, dan sungguh aku akan bangun di malam hari (shalat malam) dan tidak tidur."

Maka perkataan itu sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu beliau bertanya kepadanya,


انت الذي كلت كذا...


"Apa kamu mengatakan begini dan begitu...?"


Maka dia menjawab, "Ya."
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya,

صم كذا، صم كذا.


"Puasalah begini, puasalah begitu."


Dia pun berkata,


إني أطيق أكبر من ذلك.


"Aku mampu (puasa) lebih dari itu."


Sehingga Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya:


صم يوما، وافطر يوما، فذلك أفضل الصيام، وهو صيام داود عليه السلام.


"Puasalah sehari, dan berbuka sehari, maka itu adalah puasa yang paling utama, dan ia adalah puasa Dawud عليه السلام."
HR. Al-Bukhari (3237), dan Muslim (1159).



PUASA YANG MAKRUH


Makruh mengkhususkan puasa di bulan Rajab, sebab ia merupakan syiar-syiar masa jahiliyah.



PUASA YANG HARAM


1. PUASA DI DUA HARI RAYA


Karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarangnya:


نهى عن صوم يومي العيدين، عيد الفطر وعيد الاضحى.


"Rasulullah melarang puasa dua hari raya, idul Fithri dan idul Adha."
HR. Al-Bukhari (1889) dan Muslim (1138).



2. PUASA PADA HARI-HARI TASYRIK


Berdasarkan hadits dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,


أيام اكل وشرب، وذكر الله عز وجل.


"(Hari-hari Tasyrik) adalah hari-hari untuk makan-minum, dan berdzikir kepada Allah azza wajalla." HR. Muslim (1141).



Kecuali berpuasa sebagai dam bagi yang haji Tamattu' atau haji Qiran. Berdalilkan hadits Aisyah dan Ibnu Umar رضي الله عنهما, keduanya berkata,


لم يرخص في أيام التشريق أن يصمن إلا لمن لم يجد الهدي.


"Tidak ada rukhshah di hari-hari Tasyrik untuk berpuasa, kecuali bagi orang (haji Tamattu' atau Qiran) yang tidak mampu menyembelih hadyu/binatang qurban." HR. Al-Bukhari (1894)



•••━══ ❁✿❁ ══━•••



Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah

Diposting ulang hari Rabu, 27 Ramadhan 1441 H / 20 Mei 2020 M



#NAFiqih #NAFQ214 #NAFQ215


===========================


Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah yang telah berlalu, silakan mengunjungi:





🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀









Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 215 ) Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 215 ) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 6 on May 23, 2020 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.