AL-FIQH AL-MUYASSAR ( Pertemuan ke - 148 )




┏━━━━━━━━━━┓
      KAJIAN FIKIH 
┗━━━━━━━━━━┛



Dari kitab:

AL-FIQH AL-MUYASSAR

(FIKIH PRAKTIS)




بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:



Ketika takziah hendaknya menjauhi beberapa perkara yang banyak dilakukan oleh banyak orang di masyarakat, akan tetapi tidak berdasarkan dalil dalam syariat, antara lain:


1. Berkumpul untuk takziah di tempat tertentu dengan menyiapkan kursi-kursi penerangan/lampu, dan orang-orang yang membaca Al-Qur'an.


2. Keluarga mayit membuatkan makanan selama masa berduka untuk menjamu orang-orang yang takziah. Berdasarkan hadits Jarir Al-Bajali رضي الله عنه dia berkata,



كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة 



"Kami menganggap berkumpul di rumah mayit dan membuat makanan setelah pemakamannya termasuk niyahah (meratap)." HR. Ibnu Majah (1612), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (1318).


3. Mengulang-ulang takziah.

Sebagian orang pergi ke rumah keluarga mayit lebih dari sekali untuk takziah, padahal dalam hukum asalnya takziah itu cukup hanya sekali, akan tetapi jika tujuan takziah berkali-kali itu untuk mengingatkan dan menasehati untuk bersabar, menerima ketetapan Allah dan takdirNya, maka boleh.

Tapi jika tujuannya tidak untuk ini, maka tidak layak dilakukan, sebab hal ini tidak ada riwayat dari Nabi صلى الله عليه وسلم maupun dari para sahabat.


🫕 SUNNAH  bagi kerabat dan tetangganya untuk membuatkan makanan untuk keluarga mayit.

Berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم,



اصنعوا لآل جعفر طعاما، فإنه قد أتاهم أمر يشغلهم 
-أو أتاهم ما يشغلهم-.



"Buatkan makanan untuk keluarga Ja'far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka atau mereka kedatangan sesuatu yang menyibukkannya." HR. Abu Dawud (3116), At-Tirmidzi (1003), dan Ibnu Majah (1610), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (1316).



BOLEH MENANGIS DAN BERDUKA ATAS MAYIT


Hal ini sering terjadi, yakni kesedihan karena didorong oleh  tabiat manusiawi, tidak dengan memaksakan diri.

Sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم juga menangis karena kematian anak beliau Ibrahim, ketika itu beliau bersabda,



إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلى ما يرضى ربنا.



"Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, tapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami." HR. Al-Bukhari (1303).


Akan tetapi hal ini bukan karena marah, cemas, dan berkeluh kesah.


HARAM MERATAPI MAYIT


Haram menangis dengan meraung-raung, memukul pipi, dan merobek baju. Berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم,



ليس منا من لطم الخدود، وشق الجيوب، ودعا بدعوى الجاهلية.



"Bukan termasuk golongan kami, orang yang menampar pipi, merobek saku baju, dan berseru dengan seruan Jahiliyah." Muttafaq 'alaih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1294), dan Muslim (103).


Contoh seruan Jahiliyah:


"Celaka!","Sial!" dan semisalnya, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:



النائحة إذا لم تتب قبل موتها تقام يوم القيامة وعليها سربال من قطران ودرع من جرب.



"Wanita yang meratap, jika dia belum bertaubat sebelum matinya, maka dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan memakai pakaian dari aspal dan jubah dari (penyakit) kudis." HR. Muslim (934).



Walhamdulillah selesai Kitabul Janaiz (Bab Jenazah).



•••━══ ❁✿❁ ══━•••



 Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 22 Jumadil Awwal 1442 H / 6 Januari 2021 M


Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.



Barakallahu fikunna 



#NAMuyassar #NAM148


○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○



Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar, silakan mengunjungi:


Channel Telegram:

       • http://t.me/NAmuyassar



Website: 





🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀











 

AL-FIQH AL-MUYASSAR ( Pertemuan ke - 148 )   AL-FIQH AL-MUYASSAR  ( Pertemuan ke - 148 ) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 6 on January 29, 2021 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.