Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if ( Pertemuan ke - 54 )






Dari kitab:

Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if

(Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Mengkritisi Orang, Kitab dan Golongan)



Penulis: 

Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali حفظه الله تعالى



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:



Allah ta'ala berfirman dalam ayat tentang qisas,


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِصَاصُ فِي ٱلۡقَتۡلَىۖ ٱلۡحُرُّ بِٱلۡحُرِّ وَٱلۡعَبۡدُ بِٱلۡعَبۡدِ وَٱلۡأُنثَىٰ بِٱلۡأُنثَىٰۚ فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَأَدَآءٌ إِلَيۡهِ بِإِحۡسَٰنٖۗ ذَٰلِكَ تَخۡفِيفٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَرَحۡمَةٞۗ فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٞ



"Wahai orang-orang yang beriman! 

Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qiṣāṣ berkenaan dengan orang yang dibunuh. 

Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. 

Tetapi barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan cara yang baik, dan membayar diyat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). 

Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Rabbmu. 

Barangsiapa yang melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih." 

QS. Al-Baqarah: 178



Keterangan penerjemah:


(Yakni dalam ayat di atas orang yang membunuh termasuk pelaku dosa besar, dia masih dikatakan sebagai 'saudaranya' yakni tetap sebagai saudara sesama muslim, bukan dikafirkan meskipun dia telah melakukan dosa besar. Pen.).



◼️ Allah ta'ala juga berfirman,


وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ


"Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. 

Jika salah satu dari keduanya zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. 

Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan berlakulah adil! Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."

 QS. Al-Hujurat: 9.



إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ


"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." 

QS. Al-Hujurat: 10



Seorang muslim yang fasik tidak dicabut  imannya  secara mutlak.

Dan mereka tidak kekal di dalam neraka sebagaimana yang diyakini golongan mu'tazilah.



Akan tetapi orang fasik masih dikategorikan beriman, sebagaimana firman Allah ta'ala,


وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ أَن يَقۡتُلَ مُؤۡمِنًا إِلَّا خَطَـٔٗاۚ وَمَن قَتَلَ مُؤۡمِنًا خَطَـٔٗا فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖ. 


"Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). 

Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman." 

QS. An-Nisa': 92



Terkadang orang yang fasik tidak termasuk golongan orang-orang beriman secara mutlak, sebagaimana dalam firman Allah ta'ala,


إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal." 

QS. Al-Anfal: 2



◼️ Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,


 لا يزني الزّاني حينَ يزني وهو مُؤمِنٌ ولا يسرِقُ السّارقُ حينَ يسرِقُ وهو مُؤمِنٌ ولا يشرَبُ الخَمْرَ حينَ يشرَبُها وهو مُؤمِنٌ.


"Tidaklah berzina orang yang berzina ketika sedang berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia sedang mencuri dalam keadaan beriman, dan tidaklah minum khamr ketika seseorang sedang meminumnya dalam keadaan beriman."



Mereka (para ulama ahlussunah) berkata, 


▪️Dia dikategorikan sebagai mukmin yang kurang keimanannya) 'Naqisul Iman'. 

Atau dikategorikan sebagai:


▪️Mukmin dengan keimanannya, dan fasik karena dosa besarnya.

Sehingga pelaku dosa besar dari kalangan orang Islam, tidak dikategorikan sebagai mukmin secara mutlak, tapi juga tidak dicabut imannya secara mutlak.



Inilah perkataan Syaikhul Islam...



Bersambung insya Allah



•••━══ ❁✿❁ ══━•••



Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Senin, 28 Muharram 1443 H / 6 September 2021.



Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.



Barakallahu fikunna 



#NAManhaj #NAManhaj54


======================



Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if yang telah berlalu, silakan mengunjungi:


Channel Telegram




Website 





🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀










 

Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if ( Pertemuan ke - 54 ) Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if ( Pertemuan ke - 54 ) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 6 on September 06, 2021 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.