Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if ( Pertemuan ke - 55 )





 Dari kitab :

Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if

(Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Mengkritisi Orang, Kitab dan Golongan)



Penulis: 

Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali حفظه الله تعالى



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:


Ini adalah perkataan Syaikhul Islam yang dinukil oleh Al-Akh Ahmad Ash-Shuyan yang menjelaskan tentang perbedaan khawarij terhadap  ahlussunah tentang permasalahan pelaku maksiat di kalangan kaum mukminin. 

Adapun ahlussunah tidak mengkafirkan mereka yang melakukan dosa besar, sedangkan khawarij mengkafirkan mereka ; ahlussunah tidak menghukumi  pelaku dosa besar yang terus menerus kekal di neraka sedangkan khawarij dan mu'tazilah menghukumi mereka kekal di neraka, dan dua perkara tersebut (yakni mengkafirkan dan meyakini kekal di neraka. Pen.) tidak ada hubungannya dengan manhaj yang diyakini oleh Ash-Shuyan, bahkan keduanya jauh  berbeda dengan manhaj Ash-Shuyan.


Ash-Shuyan berkata, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang setan yang pernah mengajari bacaan Ayatul Kursi untuk menjaga dari gangguan setan. 

Beliau bersabda, 


أما إنَّهُ صدَقكَ وهو كذوبٌ

"Adapun kali ini dia (setan) jujur terhadapmu, walaupun dia pendusta." HR. Al-Bukhari 2311


Maka dalam hadits di atas Nabi صلى الله عليه وسلم menetapkan  kejujuran setan (ketika memberitahu keutamaan membaca Ayatul Kursi sebelum tidur. Pen.) meskipun kebiasaan setan adalah berdusta, maka "tidak terlarang untuk menerima kebaikan yang ditunjukkan oleh setan".


Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang faedah hadits ini 'bahwa satu hikmah terkadang diucapkan oleh orang fajir walaupun dia tidak bisa mengambil manfaatnya, akan tetapi hikmah tersebut diambil darinya dan bermanfaat untuk orang lain yang mengambilnya, dan bahwa pendusta terkadang jujur perkataannya.'


JAWABAN DAN BANTAHAN DARI ASY-SYAIKH RABI HAFIZHAHULLAH


Pertama :

Al-Akh Ash-Shuyan tidak cukup dengan seruan muwazanat yang berhubungan dengan Yahudi saja  bahkan sekarang dia telah melampau batas menyerukan muwazanat terhadap sosok setan sekalipun❗

Apakah benar bahwa kita harus menerapkan  muwazanat juga kepada setan dan tokoh-tokoh penjahat dan pembesar-pembesar setan⁉️

Apakah Allah akan menghisab kita kelak pada hari kiamat jika kita tidak melakukan muwazanat sebab kita telah menzalimi setan dan tidak objektif kepada mereka⁉️

Seperti dikatakan bahwa : 

"Sesungguhnya ada di antara wara' itu (seperti wara' terhadap setan)  yang dibenci" 


Kedua : 

Bersambung insya Allah



•••━══ ❁✿❁ ══━•••


Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Senin, 20 Shafar 1443 H / 27 September 2021.


Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.


Barakallahu fikunna 


#NAManhaj #NAManhaj55

======================


Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if yang telah berlalu, silakan mengunjungi:

Channel Telegram



Website 




🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀










 

Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if ( Pertemuan ke - 55 ) Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if ( Pertemuan ke - 55 ) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 6 on October 01, 2021 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.