Kitab Tanbihat 'ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu'minat (Pertemuan 39)






KAJIAN  FIQIH





 Dari kitab Tanbihat ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu`minat




 Penulis: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan حفظه الله تعالى





بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام علي رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

أخواتي في الله رحمني ورحمكم الله



  HUKUM-HUKUM HAJI KHUSUS BAGI WANITA



 Kita sampai pada poin ke-11



11. Amalan manasik haji yang boleh dilakukan wanita haidh, dan yang tidak boleh 
      dilakukan sampai suci.


 Wanita haidh boleh melakukan manasik haji, seperti:

 a. Ihram
 b. Wukuf di Arafah
 c. Mabit/menginap di Muzdalifah
 d. Melempar jumrah


 Yang tidak boleh dilakukan wanita haidh:


( a.) Thawaf di Ka'bah sampai dia suci.


 Dalilnya:

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Aisyah radhiyallahu anha ketika haidh,



إفعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري



"Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang haji, hanya saja jangan kamu thawaf di Ka'bah sampai kamu suci." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa`i)



Dalam riwayat Muslim:



فاقضي ما يقضي الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تغتسلي



"Lakukan seperti yang dilakukan oleh orang haji, hanya saja janganlah kamu thawaf sampai kamu mandi suci."


 Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Nailul Authar (5/49),


"Hadits di atas jelas melarang wanita haidh untuk berthawaf sampai darahnya berhenti  dan mandi, dan larangan itu menjadikan rusak atau batalnya (sesuatu yang dilarang). Maka thawaf wanita haidh adalah batal, ini adalah pendapat jumhur ulama."


(b.) Dia juga tidak boleh melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Karena sa'i tidak sah kecuali setelah thawaf nusuk (thawaf manasik haji), dan karena Nabi صلى الله عليه وسلم tidak pernah sa'i kecuali setelah thawaf.


 Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu' (8/82),


"Sub bab: Jika seseorang sa'i sebelum thawaf, maka thawafnya tidak sah menurut madzhab kami (Syafi'i) dan juga jumhur ulama.


 Yang lalu kami telah sebutkan dari Al-Mawardi rahimahullah, bahwa beliau menukil adanya ijma' dalam hal ini, ini juga pendapat Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad. Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan dari Atha dan sebagian ulama hadits, bahwa itu sah. Para ulama madzhab Syafi'i meriwayatkan dari Atha dan Dawud.

 Dalil kami, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan sa'i setelah thawaf, beliau bersabda,

لتأخذوا عني مناسككم

"Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian."


  Adapun hadits Ibnu Syuraik, seorang shahabat رضي الله عنه berkata, "Saya keluar bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk berhaji. Maka orang-orang mendatangi beliau, di antara mereka ada yang bertanya, ya Rasulullah saya telah melakukan sa'i sebelum thawaf, atau saya telah mengakhirkan suatu amalan, saya telah mendahulukan suatu amalan."


Maka beliau menjawab,


لا حرج لا حرج إلا على رجل اقترض من عرْض رجل مسلم وهو ظالم فذلك الذي هلك وحرج


"Tidak mengapa, tidak mengapa, kecuali orang yang melanggar kehormatan seorang muslim dan berbuat zhalim, maka itulah yang binasa dan berdosa."
(HR. Abu Dawud dengan sanad shahih)


 Semua perawi hadits di atas diakui keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim kecuali Usamah bin Syuraik.


 Hadits ini hendaknya difahami seperti pemahaman Al-Khaththabi dan lainnya, yaitu bahwa maksud kalimat 'Saya telah sa'i sebelum thawaf' adalah 'Saya melakukan sa'i setelah thawaf qudum dan sebelum thawaf ifadhah'.


Bersambung, insya Allah.



وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله والحمد لله رب العالمين




 Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 25 Dzulqa'dah 1436 H / 9 September 2015





WA Nisaa' As-Sunnah
Kitab Tanbihat 'ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu'minat (Pertemuan 39) Kitab Tanbihat 'ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu'minat (Pertemuan 39) Reviewed by Nisaa As-Sunnah 2 on September 12, 2015 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.