Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 62): BAB ISTIHADHAH DAN HUKUM-HUKUMNYA

Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 62):


KAJIAN  FIQIH
Dari kitab:
Fiqhu al-Mar'ati al-Muslimati
Penulis:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله


:بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد 

Saudaraku seiman, semoga rahmat Allah dilimpahkan kepadaku dan kepada kalian semua.




hal.89


BAB ISTIHADHAH DAN HUKUM-HUKUMNYA

Istihadhah adalah darah yang keluar terus menerus dari wanita, tidak pernah berhenti selamanya, atau berhenti sebentar selama sehari atau dua hari dalam sebulan.

Dalil yang pertama, yakni darah keluar tidak pernah behenti selamanya, ada dalam Shahih Bukhari dari Aisyah رضي الله عنها berkata:

"Fathimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

يَا رَسُوْلَ اللَّه إِنِّيْ لاَ أَطْهُرْ

"Ya Rasulullah, sesungguhnya saya tidak pernah suci (keluar darah terus menerus)." 
(HR. Bukhari no.306)

Dalam riwayat lain:

أَسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرْ

"Saya haidh dan tidak pernah suci (darah keluar terus)."
(HR. Bukhari no.325)

Dalil kedua, yakni darah tidak berhenti kecuali hanya berhenti sebentar.

Hadits Hamnah bintu Jahsyin ketika datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللَّه إِنِّيْ أَسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيْرَةً شَدِيْدَةً

"Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mendapati haidh yang sangat banyak." 
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

MACAM-MACAM KEADAAN ORANG YANG ISTIHADHAH

Wanita istihadhah ada tiga macam keadaannya:

1. Sebelum mengalami istihadhah dia mempunyai rutinitas haidh.

Maka dia dihukumi haidh di hari-hari rutinitas haidhnya, selain itu dia dihukumi istihadhah.

Contoh:
Seorang wanita biasanya datang masa haidhnya selama enam hari di awal bulan, setelah itu ternyata darah terus keluar.

Maka dia dihukumi haidh selama enam hari di awal bulan, yang berikutnya (yakni hari ketujuh dan seterusnya) dia dihukumi istihadhah. Ini berdasarkan hadits Aisyah رضي الله عنها bahwa Fathimah bintu Abi Hubaisy berkata:

يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنِّيْ أَسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرْ أَفَأَدَعُ الصَّلاَة؟

"Ya Rasulullah, sesungguhnya saya haidh (terus menerus) dan tidak pernah suci (tidak berhenti), apakah saya harus meninggalkan shalat? "

Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab:

لاَ، إِنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِيْ الصَّلاَةَ قَدْرَ الْأَيَّام الَّتِيْ كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا ثُمَّ اغْتَسِلِيْ وَصَلِّيْ

"Tidak (jangan tinggalkan shalat), sesungguhnya itu adalah (darah dari) urat, akan tetapi tinggalkan shalat selama hari-hari biasa kamu mendapati haidh, kemudian mandilah dan shalatlah." 
(HR. Bukhari)

Dan dalam riwayat Muslim bahwa Nabi صلى الله عليه وسىلم bersabda kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin:

أَمْكِثِيْ قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتِكِ ثُمَّ غْتَسِلِيْ وَصَلِّيْ

"Tahanlah (tidak shalat) selama masa haidhmu, kemudian (setelah itu) mandilah dan shalatlah." 
(HR. Muslim)

2. Wanita sebelum mengalami istihadhah dia tidak punya rutinitas haidh.

Yakni, sejak pertama keluar darah, ternyata darah tidak pernah berhenti keluar, sehingga dia tidak tahu kapan masa haidh dan kapan istihadhah.

Keadaan yang kedua ini, untuk menghukumi haidh atau istihadhah dengan cara membedakan sifat darah, dia dihukumi haidh jika darah yang keluar sesuai sifat-sifat darah haidh, yaitu:

1. Warnanya merah kehitaman
2. Kental
3. Berbau anyir

Dan dihukumi istihadhah ketika darah yang keluar berbeda dengan sifat darah di atas.

Sifat-sifat darah istihadhah sebagai berikut:

1. Berwarna merah segar
2. Cair/encer
3. Tidak berbau

Jelasnya seperti darah yang keluar dari jari yang terluka karena pisau, warnanya merah segar, cair, dan tidak berbau anyir, seperti itulah sifat darah suci istihadah (keterangan pen.)

Contoh keadaan kedua:

Seorang wanita pertama kali mengalami keluar darah, ternyata darah terus keluar, tapi dia melihat ada perbedaan sifat darah yang keluar:

Sepuluh hari pertama darah yang keluar berwarna kehitaman.

Setelah itu darah yang keluar berwarna merah segar.

Atau:

Sepuluh hari pertama darah yang keluar kental.

Sisa hari-hari berikutnya darah encer.

Atau:

Sepuluh hari pertama darah yang keluar ada bau darah haidh.

Sisa hari berikutnya darah tidak berbau.

Maka sepuluh hari pertama dia dihukumi haidh karena darah yang keluar memiliki sifat-sifat darah haidh. Dia harus berhenti shalat, puasa, dan lainnya.

Adapun setelah itu dia dihukumi istihadhah karena sifat-sifat darah yang keluar adalah darah suci, maka dia harus mandi suci dari haidh, kemudian shalat, puasa, dan lainnya karena dia dihukumi suci meskipun darah terus keluar.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy:

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِفَإِنَّهُ أَسْوَد يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمَسكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ الْأَخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

"Apabila darah haidh, maka dikenal dengan warna kehitaman, maka jika yang keluar seperti itu berhentilah shalat, dan jika yang keluar berwarna lain maka berwudhulah (setelah mandi suci) dan shalatlah, karena sesungguhnya itu darah keluar dari urat." 
(HR. Abu Dawud, Nasa'i, dan Al-Hakim)

Hadits di atas meskipun pada sanad dan matannya ada perbincangan para ulama hadits, akan tetapi di jadikan pegangan hujjah oleh para ulama fikih رحمهم الله.

3. Wanita istihadhah, tapi dia tidak mempunyai rutinitas haidh juga tidak bisa membedakan sifat darah.

Bersambung in sya Allah.

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Selasa, 13 Jumadil Akhir 1437 H / 22 Maret 2016 M.



Nisaa` As-Sunnah
Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 62): BAB ISTIHADHAH DAN HUKUM-HUKUMNYA Kitab Fiqh Al Mar'atul Muslimah (Pertemuan 62): BAB ISTIHADHAH DAN HUKUM-HUKUMNYA Reviewed by Nisaa` As-Sunnah on March 23, 2016 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.