AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 33): Penyebab yang Mewajibkan Mandi

Penyebab yang Mewajibkan Mandi


KAJIAN FIKIH
Dari kitab:
AL-FIQHU AL-MUYASSAR
(FIKIH PRAKTIS)



بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد

Akhawati fillah kita lanjutkan kajian fikih, dari kitab Al-Fiqhul Muyassar,  kita telah sampai pada Bab ketujuh tentang HUKUM-HUKUM MANDI.

Kita sampai pada 
PENYEBAB yang mewajibkan mandi.

Point 1 dan 2 sudah kita kaji, selanjutnya masuk pada point ke-3:

3. MASUK ISLAMNYA ORANG KAFIR, WALAUPUN DIA KAFIR YANG MURTAD.

Dalilnya:

.أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر قيس بن عاصم حين أسلم أن يغتسل

"Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan Qais bin Ashim untuk mandi ketika masuk Islam." (Abu Dawud,  An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi)

4. BERHENTINYA DARAH HAIDH DAN NIFAS.

Dalilnya hadits Aisyah رضي الله عنها, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Fathimah bintu Abu Hubaisy رضي الله عنها,

.إذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة،  وإذا أدبرت فاغتسلي وصلي

"Apabila datang haidh, maka tinggalkan shalat, dan jika berhenti, maka mandilah dan shalatlah." (HR Bukhari dan Muslim)

Nifas sama dengan haidh menurut ijma'/kesepakatan ulama.

5. MENINGGAL DUNIA.

Dalilnya sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada kaum wanita yang memandikan putri beliau Zainab ketika wafat,

إغسلنها

"Mandikanlah dia."

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda tentang seorang yang wafat ketika sedang ihram,

اغسلوه بماء وسدر

"Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara." (Muttafaqun 'alaih)

Hal ini sebagai bentuk ibadah, sebab jika alasan memandikan (jenazah) adalah hadats, maka ia tidak terangkat (hilang) selama sebabnya TETAP ada.

BAGIAN KEDUA:

SIFAT DAN TATA CARA MANDI

MANDI JUNUB ada dua cara:

Tata cara yang dianjurkan (disunnahkan), dan tata cara yang dianggap cukup.

TATA CARA YANG DISUNNAHKAN, yakni:

mencuci kedua tangan,
mencuci farji dan apa yang terkena kotoran,
berwudhu seperti wudhu akan shalat,
mengambil air dengan tangan untuk menyela-nyela rambut kepalanya dengan memasukkan jari-jarinya ke akar rambutnya sampai basah kulit kepalanya,
menyiram di atas kepalanya tiga kali,
kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.

Tata cara mandi junub tersebut di atas berdasarkan hadits Aisyah رضي الله عنها yang muttafaqun 'alaih.

ADAPUN TATA CARA YANG DIANGGAP CUKUP, yakni dengan meratakan air ke seluruh tubuh dan diawali dengan niat ini berdasarkan hadits Maimunah رضي الله عنه,

وضع رسول الله صلى الله عليه وسلم وضوء الجنابة،  فأفرغ علي يديه فغسلهما مرتين أو ثلاثا، ثم تمضمض،  واستنشق، وغسل وجهه وذراعيه، ثم أفاض الماء على رأسه،  ثم غسل جسده، فأتيته بالمديل فلم يردها، وجعل ينفض الماء بيديه

"Rasulullah صلى الله عليه وسلم meletakkan air untuk mandi junub, lalu beliau menuangkan (air) ke kedua tangan beliau, lalu mencuci kedua tangan beliau dua atau tiga kali, kemudian beliau berkumur, beristinsyaq (menghirup air ke hidung), membasuh wajah dan kedua tangan beliau, kemudian menuangkan air ke kepala beliau, kemudian membasuh tubuh beliau. Lalu aku membawakan kain (handuk) kepada beliau tapi beliau tidak menginginkannya, dan beliau mengibaskan air dengan kedua tangan beliau." (Muttafaqun 'alaih) 

Dan semakna dengan hadits ini adalah hadits Aisyah رضي الله عنها,

ثم يخلل شعره بيده،  حتى إذا ظن أنه قد روى بشرته،  أفاض عليه الماء ثلاث مرات، ثم غسل سائر جسده

"...Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyela-nyela rambut kepala beliau dengan tangannya, sampai ketika beliau yakin air telah membasahi kulit kepalanya, beliau menyiramkan air tiga kali di atas kepala,  kemudian beliau memandikan seluruh tubuh beliau." (Muttafaqun 'alaih) 

Tidak wajib bagi wanita untuk membuka ikatan rambutnya ketika mandi junub.

Tetapi ketika mandi HAIDH, maka harus dibuka (diurai) rambutnya.

Berdasarkan hadits Ummu Salamah رضي الله عنها berkata, "Aku bertanya,

يا رسول الله إني إمرأة أشد ضفر رأسي، أفأنقضه لغسل الجنابة؟   قال:  لا،  إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات،  ثم تفيضين عليك الماء،  فتطهرين

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang mengikat kepangan rambut di kepalaku, apakah aku harus membukanya untuk mandi junub?" Beliau menjawab,  "Tidak, cukup bagimu hanya menuangkan air (dengan sepenuh kedua telapak tangan) di atas kepalamu tiga kali, kemudian kamu siramkan air ke seluruh tubuh, maka kamu sudah suci." (HR. Muslim)

BAGIAN KETIGA:

MANDI YANG SUNNAH

Bersambung insya Allah

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 29 Rabi'ul Awal 1438 H / 28 Desember 2016 M

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan ketika jadwal Tanya Jawab, hari Kamis dan Jum'at pekan pertama bulan depan

Barakallahu fikunna

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar, silakan mengunjungi:

Website: 
       ● http://tlgrm.me/www.nisaa-assunnah.com
       
Channel Telegram:
       ● http://tlgrm.me/nisaaassunnah
       ● http://tlgrm.me/fiqihmukminah



Nisaa` As-Sunnah
AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 33): Penyebab yang Mewajibkan Mandi AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 33): Penyebab yang Mewajibkan Mandi Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 1 on May 05, 2017 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.