AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 45)


http://t.me/fiqihmukminah

PERTEMUAN 45

┏━━━━━━━━━━━━━━━━━┓
    🎀  KAJIAN FIKIH  🎀
┗━━━━━━━━━━━━━━━━━┛

📚 Dari kitab:

AL-FIQH AL-MUYASSAR

(FIKIH PRAKTIS)


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

🍊 Akhawati fillah, kita lanjutkan kajian fikih dari kitab Al-Fiqhul Muyassar. 

⚫ Bab kesepuluh tentang HAIDH DAN NIFAS. Sekarang kita kaji  bagian keenam,

📌 TENTANG NIFAS

6⃣ BATAS MINIMAL DAN MAKSIMAL UNTUK NIFAS

✔ Tidak ada batas minimal masa nifas, sebab tidak ada dalil yang menjelaskan batas minimalnya, maka masalah ini dikembalikan kepada fakta yang terjadi. Pada kenyataan, ada yang mengalami nifas sebentar dan ada yang lama, paling lama 40 hari.

💬 At-Tirmidzi berkata, "Telah sepakat para ulama dari para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم dan orang-orang sesudah mereka, bahwa wanita nifas itu meninggalkan shalat selama 40 hari, kecuali dia melihat dirinya telah suci sebelum itu,  maka dia wajib mandi dan shalat."

▪ Berdasarkan hadits Ummu Salamah رضي الله عنها:

كانت النفساء على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تجلس أربعين يوما.

"Dahulu para wanita nifas di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم duduk (tidak shalat) selama empat puluh hari." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Al-Albani berkata, "Mauquf dhaif.")

⚫ BAGIAN KETUJUH

7⃣ DARAH ISTIHADHAH

📌 ISTIHADHAH adalah keluarnya darah 
💧bukan pada waktunya,
💧 keluarnya dengan mengucur,
💧keluarnya dari pembuluh darah yang dinamakan Al-Adzil (bukan dari rahim, pen.).

📌 Darah ISTIHADHAH berbeda dengan darah haidh pada hukum-hukum dan sifatnya.

💧Darah ISTIHADHAH adalah darah yang keluar dari pembuluh darah di luar waktu-waktu haidh.

💧Darah ISTIHADHAH tidak menghalangi shalat, puasa, dan jimak, sebab dia dihukumi sebagai wanita SUCI.
▪Dalilnya adalah hadits Fathimah bintu Abi Hubais رضي الله عنها, dia bertanya,

يارسول الله،  إني أستحاض فلا أطهر، أفأدع الصلاة؟  قال: لا، إن ذلك عرق وليس بالحيضة،  فإذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة،  فإذا أدبرت فاغسلي عنك الدم وصلي.

"Wahai Rasulullah,  sesungguhnya aku mengalami istihadhah sehingga tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?"  Beliau menjawab,  "Jangan, sesungguhnya darah itu dari pembuluh darah dan bukan haidh, maka apabila (waktu rutinitas) haidhmu datang, maka tinggalkanlah shalat, dan jika masa haidhmu sudah berlalu,  maka mandilah (bersihkan darah tersebut) dan shalatlah." (Muttafaqun 'alaih)

▪Maka di akhir masa haidhnya dia wajib (meskipun darah istihadhah tetap mengalir) 
📌 mandi,
📌 membersihkan farjinya dari sisa darah haidh,
📌 memakai kapas pembalut untuk menahan darah yang terus keluar, dan diikat dengan celana dalam agar tidak jatuh.
🔖 Pembalut higienis yang ada di zaman ini bisa dipakai. ☝Dan BERWUDHU ketika masuk waktu shalat.

⚫ WANITA ISTIHADHAH MEMPUNYAI TIGA KEADAAN.

▪ Bersambung insya Allah

✍🏼 Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah   Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 15 Rajab 1438 H / 12 April 2017 M

====°°°°====°°°°====°°°°====

🛑 Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

🍃 Barakallahu fikunna

○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

🖥 Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar, silakan mengunjungi:

🌐 Website: 
       ● http://www.nisaa-assunnah.com
       
📠 Channel Telegram:
       ● http://tlgrm.me/nisaaassunnah
       ● http://tlgrm.me/fiqihmukminah


🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀

AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 45) AL-FIQH AL-MUYASSAR (PERTEMUAN 45) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 4 on October 05, 2017 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.