Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan ke-122)



Penulis:
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى

Syarah/Penjelasan oleh:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد

Apabila seseorang beribadah dengan bentuk seperti itu (yakni dengan ihsan), maka dia akan menjadi hamba yang ikhlas kepada Allah azza wajalla,  tidak menginginkan riya' (memperlihatkan ibadahnya) maupun sum'ah (memperdengarkan/menceritakan ibadahnya) dalam amal ibadahnya, juga tidak mengharapkan pujian manusia. Sehingga   ketika orang melihatnya ataupun tidak, semua itu sama baginya, dia menjadi orang yang ihsan dalam beribadah dalam keadaan bagaimana pun.

Bahkan termasuk kesempurnaan ikhlas adalah semangatnya seseorang agar ibadahnya tidak dilihat oleh orang lain, ibadahnya kepada Rabbnya dilakukan dengan rahasia (tersembunyi), kecuali jika ada kemaslahatan bagi Islam atau kaum muslimin untuk menampakkan ibadahnya, contohnya jika dia seorang panutan yang dijadikan contoh dan dia ingin menampakkan ibadahnya kepada orang lain agar mereka mengambil contoh darinya untuk mereka amalkan atau dia ingin memperlihatkan ibadahnya agar bisa ditiru oleh teman-temannya dan sahabat-sahabatnya, maka dalam keadaan seperti ini ada kebaikan.

Maslahat untuk menampakkan ibadah seperti ini terkadang lebih baik dan lebih utama daripada maslahat untuk menyembunyikan amalan. Oleh karena itu Allah azza wajalla memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka dengan cara sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.

Apabila amalan yang tersembunyi lebih baik dan lebih berguna bagi hati, lebih khusyuk dan lebih kuat taubatnya kepada Allah, maka mereka menyembunyikan amalan.

Dan jika amalan secara terang-terangan mengandung maslahat untuk Islam karena syariat-syariatnya menjadi nampak, juga ada maslahat bagi kaum muslimin sehingga mereka bisa mencontoh pelakunya, maka mereka menampakkan amalan.

Seorang mukmin selalu melihat kepada sesuatu yang paling baik, setiap sesuatu yang paling baik dan paling bermanfaat dalam ibadah, maka hal itu menjadikan ibadahnya lebih sempurna dan lebih utama.

Dalil dari sunnah tentang Islam, Iman dan Ihsan ada dalam hadits Jibril yang masyhur, dan syarah (keterangan) tentang hadits Jibril telah disampaikan.

Bersambung insya Allah


•••━══ ❁✿❁ ══━•••

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Kamis, 12 Sya'ban 1440 H / 18 April 2019.
__________

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

🍃Barakallahu fikunna 🍃

#NATauhid #NAT122
====================

📡 Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Tsalatsatul Ushul yang telah berlalu, silakan mengunjungi:
📠 Channel Telegram
      ● http://t.me/NAtauhid
      ● http://t.me/nisaaassunnah
🌐 Website
      ● http://www.nisaa-assunnah.com/p/natauhid.html
      ● http://www.nisaa-assunnah.com

🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀
Kajian Tauhid Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan ke-122) Kajian Tauhid Kitab  Tsalatsatul Ushul  (Pertemuan ke-122) Reviewed by NISAA.ASSUNNAH2 on April 20, 2019 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.