Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 14)


http://t.me/NAmanhaj

Pertemuan 14

KAJIAN MANHAJ

Dari kitab:
Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if
(Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Mengkritisi Orang, Kitab dan Golongan)

Penulis:
Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali حفظه الله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

3. Dari Aisyah رضي الله عنها berkata

أن هند بنت عتبة قالت : يا رسول الله!  إن أبا سفيان رجل شحيح،  وليس يعطيني ما يكفيني وولدي إلا ما أخذت منه وهو لا يعلم.  فقال  :" خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف“.

Bahwa Hindun bintu Utbah berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang pelit, dia tidak memberiku apa yang cukup untukku dan untuk anakku, kecuali jika aku mengambil darinya dalam keadaan dia tidak tahu" Maka beliau bersabda, "Ambillah apa yang cukup untukmu dan anakmu secara makruf."  HR.  Bukhari (3564) dan Muslim (1714)

Al-Hafidz Ibnu Hajar رحمه الله berkata,
"Berdasarkan hadits ini menunjukkan bolehnya menjelaskan kejelekan/kekurangan seseorang jika dalam rangka untuk meminta nasihat atau mengeluhkan kekurangannya, atau yang semisal dengan itu, dan ini merupakan salah satu tempat dibolehkannya melakukan ghibah." (Al-Fathu: 9/509).

Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengingkari apa yang disampaikan oleh Hindun tentang suaminya karena dia berada pada pihak yang dizhalimi, dan dia tidak diperintahkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menyebutkan juga kebaikan-kebaikan yang ada pada Abu Sufyan, meskipun pada kenyataannya Abu Sufyan seorang yang juga memiliki sisi kebaikan.

Akan tetapi hal ini berbeda dengan manhaj baru, di mana mereka tidak peduli dengan perkara semacam ini, mereka tidak bisa membedakan antara kemaslahatan dan kerusakan, bahkan mereka menggugurkan sisi kemaslahatan, dan mereka menyepelekan bahaya-bahaya kebid'ahan, tidak mengetahui manfaat nasihat yang diajarkan dalam Islam dan yang dicontohkan oleh para ulama salaf. Maka ketika mereka tidak memahami semua ini, akhirnya mereka menganggap bahwa, orang yang menyebutkan aib atau kebid'ahan seseorang atau kelompok dengan tujuan untuk mentahdzir agar umat berhati-hati, juga dalam rangka untuk menasihati mereka, dianggap sebagai orang yang tidak adil, bahkan dituduh berkhianat terhadap saudara sesama muslimat!

TAHDZIR NABI صلى الله عليه وسلم DARI KELOMPOK KHAWARIJ

Bersambung insya Allah

•••━════━•••

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Senin, 23 Rabi'uts Tsani 1440 H / 31 Desember 2018.
______

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

Barakallahu fikunna

#NAManhaj #NAManhaj14
======================

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if yang telah berlalu, silakan mengunjungi:
Channel Telegram
      ● http://t.me/NAmanhaj
      ● http://t.me/nisaaassunnah
Website
      ● http://www.nisaa-assunnah.com/p/namanhaj.html
      ● http://www.nisaa-assunnah.com

Nisaa` As-Sunnah
Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 14) Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 14) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 4 on August 18, 2019 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.