Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 196 )




KAJIAN FIKIH 




Dari kitab:

Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah



Penulis:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله



KITABUSH SHIYAM (KITAB TENTANG PUASA) ~ Pertemuan 14



بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:




PERMASALAHAN KESEMBILAN


9. APABILA SESEORANG KERASUKAN JIN SEPANJANG HARI, DARI SEBELUM FAJAR SAMPAI TERBENAM MATAHARI DI BULAN RAMADHAN

Maka tidak sah puasanya, dan tidak pula wajib meng-qadha.

Sebab dia bukan termasuk orang yang diwajibkan beribadah, dan termasuk syarat sahnya ibadah adalah bagi orang yang berakal.



PERMASALAHAN KESEPULUH


10. APABILA SESEORANG PINGSAN (TIDAK SADAR) SEPANJANG SIANG

Maka tidak sah puasanya, sebab dia tidak berakal ketika itu.

Dan dia wajib meng-qadha karena dia termasuk orang yang mukallaf (dibebani syariat).



PERMASALAHAN KESEBELAS

11. APABILA SESEORANG TIDUR SEBELUM ADZAN SHUBUH DAN TIDAK BANGUN KECUALI SETELAH MATAHARI TENGGELAM, DAN DIA TELAH BERNIAT PUASA

Maka puasanya hari itu sah, dan tidak mengqadha-nya.



PERMASALAHAN KEDUA BELAS


12. PADA PUASA FARDHU WAJIB NIAT SEBELUM TERBIT FAJAR

DALILNYA:

Hadits Aisyah رضي الله عنها marfu,



من لم يبيت الصيام قبل طلوع الفجر فلا صيام له.



"Barang siapa tidak berniat puasa dari malam hari sebelum terbit fajar (subuh), maka tidak ada (tidak sah) puasa baginya." 

 HR. Ad-Daruquthni (2/172), Al-Baihaqi (2/203), Abu Dawud (2454), At-Tirmidzi (726), An-Nasa'i (4/196), Ibnu Majah (1700) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' (6534).

Adapun puasa yang disyaratkan harus dikerjakan berturut-turut seperti puasa Ramadhan atau puasa dua bulan berturut-turut (puasa kaffarah), maka melakukan niat cukup di hari pertama saja selama puasanya tidak terputus karena ada uzur, misalnya karena safar, maka jika dia akan berpuasa lagi harus memperbarui niat.



PERMASALAHAN KETIGA BELAS


13. APA HUKUM SESEORANG YANG BERKATA, 'SAYA BESOK PUASA INSYA ALLAH'?

▪Jika dia mengucapkannya dengan ragu-ragu maka rusak/batal niatnya.

▪ akan tetapi jika dia mengucapkannya dengan berharap dia mampu berpuasa, yakni sungguh-sungguh dalam niatnya, maka sah puasanya.



PERMASALAHAN KEEMPAT BELAS

14. PUASA SUNNAH SAH MESKIPUN NIATNYA DI SIANG HARI, DENGAN SYARAT DIA TIDAK MELAKUKAN SESUATU YANG MEMBATALKAN PUASA SEJAK TERBIT FAJAR/SUBUH

Dalilnya:



أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل ذات يوم على أهله فقال :

" هل عندكم من شيء؟ "

فقالوا : لا، قال : "إني إذن صائم"



Pada suatu hari Nabi صلى الله عليه وسلم masuk ke rumah istri beliau, lalu beliau bertanya. "Apakah kalian mempunyai sesuatu (untuk dimakan)?" Istrinya menjawab, "Tidak ada", maka beliau berkata, "Kalau begitu saya puasa." HR. Muslim.



PERMASALAHAN KELIMA BELAS


15. Bersambung insya Allah



•••━══ ❁✿❁ ══━•••



Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah

Diposting ulang hari Kamis, 14 Ramadhan 1441 H / 7 Mei 2020 M



#NAFiqih #NAFQ196


===================


Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah yang telah berlalu, silakan mengunjungi:










Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 196 ) Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah ( Pertemuan ke - 196 ) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 6 on May 10, 2020 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.