Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 38)

 


Manhaj Ahlussunnah, [02.11.20 20:27]
http://t.me/NAmanhaj

Pertemuan 38

KAJIAN MANHAJ

Dari kitab:
Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if
(Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Mengkritisi Orang, Kitab dan Golongan)

Penulis: 
Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali حفظه الله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم setelah jelas ayat Al-Qur'an mengharamkan khamar dan judi, maka beliau  bersabda:

كل مسكر حرام.

"Semua yang memabukkan itu haram." Riwayat dari Abu Musa, muttafaqun 'alaih.

Dan beliau melarang  khamar, memperingatkannya dalam banyak hadits, sebagaimana dalam Bab Al-Asyribah (minuman) pada kitab-kitab Sunan. Dalam hadits-hadits tersebut beliau tidak menyebutkan manfaat khamar sedikitpun.

Adapun shahabat Utsman bin Affan رضي الله عنه menamakan khamar dengan Ummu Al-khabaits (induk semua kejahatan) dalam Sunan An-Nasa'i 8/315-316. Hadits 5666-5668.
Penamaan ini telah masyhur di kalangan kaum Muslimin.

Dari Abu Al-Juwairiyyah berkata, aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang Al-Baadziq' (الباذق) ?

Keterangan penerjemah:

Al-Baadziq adalah minuman terbuat dari perasan anggur yang sudah permentasi sehingga berubah menjadi khamer. (Selesai keterangan. Pen.).

Maka Ibnu Abbas رضي الله عنهما menjawab,

سبق محمد صلى الله عليه وسلم الباذق، فما أسكر فهو حرام. وقال : السؤال الحلال الطيب. قال : ليس بعد الحلال الطيب إلا الحرام الخبيث.

"Muhammad صلى الله عليه وسلم telah menerangkan sebelum adanya Al-Baadziq, bahwa semua yang memabukkan maka ia haram. Selanjutnya beliau berkata, 'Minuman yang halal lagi baik, dan tidak ada setelah yang halal dan bagus kecuali yang haram lagi jelek.' HR. Al-Bukhari dalam Bab Al-Asyribah, hadits (5598).

Apakah para ulama sepakat untuk berbuat zhalim terhadap khamar dengan cara menyembunyikan sisi kemanfaatannya, mereka hanya menyebutkan sisi negatifnya, tidak pernah menyebutkan sedikitpun sisi positif dan manfaat khamer, apakah berarti mereka telah berbuat zhalim?!
Kalau begitu di mana 'muwazanah' ?!

Jawabannya:

Bahwa para ulama tidak zhalim, dan bukan berkata tidak adil, tapi begitulah cara nasihat disampaikan untuk umat Islam, peringatan agar menjauhi segala kejelekan dan kerusakan.

Begitu pula mereka  yang berpendapat menyimpang mengharuskan ada 'muwazanah' dalam memperlakukan pelaku-pelaku bid'ah serta kebid'ahan mereka, padahal bid'ah ini jauh lebih berbahaya dari khamar, sebab pelaku bid'ah memakai pakaian agama, oleh karena itulah peringatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan peringatan para ulama dari bahaya bid'ah ini lebih keras.

Duhai andaikata orang-orang yang menyepelekan bid'ah mengetahui hal ini, allahul Musta'aan, hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

Bersambung insya Allah

•••━════━•••

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Senin, 16 Rabi'ul Awwal 1442 H / 2 November 2020.
______

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

Barakallahu fikunna

#NAManhaj #NAManhaj38
======================

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars Kitab Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if yang telah berlalu, silakan mengunjungi:
Channel Telegram
Website 

Nisaa` As-Sunnah


Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 38) Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fi Naqdir Rijal wal Kutubi wath Thawa'if (Pertemuan 38) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 4 on January 01, 2021 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.