KAJIAN TAUHID Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan 3): Makna Allah


Makna Allah


KAJIAN TAUHID 

Dari kitab :

Tsalatsatul Ushul

(= Tiga Landasan Utama)

Penulis :

Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى

Dengan syarah/penjelasan dari :

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد :

Akhawati fillah
رحمني ورحمكم الله

▫Dengan ridha dan rahmat dari Allah ta'ala kita mulai mengkaji ilmu TAUHID, ilmu yang paling penting dan no 1 kedudukannya di dalam Islam dibandingkan dengan ilmu yang lain.

▫Perlu diketahui bersama, bahwa metode penulisan kami di sini dengan cara sebagai berikut :

1. Kami menuliskan MATAN/ISI kitab Tsalatsatul Ushul seperti aslinya dengan Bahasa Arab

2. Kami tuliskan terjemahan dari matan ke Bahasa Indonesia

3. Kami tuliskan pula terjemah dari SYARAH/penjelasannya.

Selamat menyimak, semoga dapat menambah ilmu dan mengokohkan TAUHID kita,  Amin

Di awal kitabnya, Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى menulis lafazh :

▪ بسم الله الرحمن الرحيم

"Dengan nama Allah yang Maha Rahman dan yang Maha Rahim."

SYARAH/penjelasan dari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله تعالى :

Penulis kitab yakni Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى memulai kitabnya dengan kalimat 'basmalah', karena :

1. Mencontoh Kitabullah, yakni Al-Qur'an, karena Kitabullah di awali dengan kalimat 'basmalah'.

2. Mengamalkan hadits yang berbunyi :

كُلُّ أمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ

اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

"Setiap perkara penting yang tidak di awali dengan bismillahirrahmanirrahim, maka ia terputus."

Keterangan tentang hadits di atas:

▪ Bahwa hadits di atas terdapat beberapa lafazh yang berbeda, para ulama berselisih tentang kedudukan hadits di atas, ada yang menshahihkan seperti Imam An-Nawawi رحمه الله, ada pula yang mendhaifkan, akan tetapi para ulama menerima hadits tersebut, dan memasukkannya ke dalam kitab-kitab mereka, menunjukkan bahwa hadits tersebut memiliki asal. Selesai keterangan Asy-Syaikh رحمه الله dari kitab 'Al-Ilmu'.

3. Mencontoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, karena beliau memulai surat-surat beliau dengan kalimat basmalah.

Kalimat : بِسْمِ
adalah 'al-jar wal majrur'
▫Kalimat lengkapnya setelah ada kata kerja yang dihilangkan, yaitu :

بِسْمِ اللَّهِ أَكْتُبُ أَوْ أُصَنِّفُ

"Dengan nama Allah aku menulis atau menyusun tulisan."

Kata yang hilang itu berupa kata kerja, karena pada dasarnya yang bertindak sebagai 'amil dalam ilmu nahwu adalah fi'il/kata kerja

Dan kata kerja yang dihilangkan itu berada di akhir kalimat, karena ada dua faedah :

1. Mencari barakah dengan nama Allah ta'ala, dengan meletakkan di depan kata kerja

2. Sebagai pembatasan, sebab mendahulukan nama Allah yang berupa jar wa majrur yang muta'alliq, akan berfungsi membatasi, yakni
HANYA dengan nama Allah dan tidak dengan nama selain-Nya aku mulai menulis.

Lafadz اللَّه

Dari kalimat بِسْمِ اللَّهِ

▫ Allah adalah NAMA Sang Pencipta jalla wa 'ala.

▫ Allah adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama-nama Allah lainnya,

demikian pula pada firman Allah ta'ala :

{ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (١) اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَوَيْلٌ لِّلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ} [ابراهيم :1 - 2]



"(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (1)
Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (QS. Ibrahim: 1-2)


▪ Kita tidak mengatakan bahwa Lafzhul Jalalah Allah  pada ayat di atas merupakan sifat, akan tetapi merupakan 'athfu bayan', sehingga kedudukannya tetap sebagai nama-Nya.

▪ Lafazh ALLAH terambil dari lafazh ILAH, kemudian ditambah huruf alif dan lam, dan huruf إ dihilangkan, maka menjadi lafadz اللَّه :

إِلَهٌ  + أل  = أل ل ه  = أللَّه

Maknanya : إله

Seperti yang ada di dalam kalimat tauhid لا اله الا الله
"Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah."

Jadi makna إله berasal dari kata 'al-Ma`luh', yang diibadahi dengan penuh kecintaan.

▪ Maka kesimpulannya, bahwa makna Allah adalah :

Dzat yang berhak diibadahi satu-satu-Nya dengan penuh kecintaan."
(Dari kitab Fathul Majid Syarah Kitabit Tauhid, pen)

Adapun makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim,
bersambung pekan depan insya Allah

 

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab Bahmid hafizhahallah pada Kamis, 30 Al-Muharram 1437 H / 12 November 2015



http://annisaa.salafymalangraya.or.id
Telegram.me/nisaaassunnah



  Nisaa` As-Sunnah
KAJIAN TAUHID Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan 3): Makna Allah KAJIAN TAUHID Kitab Tsalatsatul Ushul (Pertemuan 3): Makna Allah Reviewed by Nisaa` As-Sunnah on November 26, 2015 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.