AL-FIQH AL-MUYASSAR (Pertemuan ke-135))


http://t.me/NAmuyassar

Pertemuan 135

KAJIAN FIKIH

Dari kitab:
AL-FIQH AL-MUYASSAR
(FIKIH PRAKTIS)


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Apabila shalat gerhana sudah selesai tapi gerhana belum tersingkap, maka tidak perlu mengulang shalat gerhana, akan tetapi cukup dengan berdzikir dan memperbanyak doa.
Berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

فصلوا وادعوا حتى يكشف ما بكم.

"Shalatlah dan berdoalah sehingga tersingkap gerhana yang terjadi pada kalian."

Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengucapkan salam dari shalat gerhana sebelum gerhana tersingkap, maka hendaklah dia menyibukkan diri dengan berdoa.
Sedangkan jika gerhana telah tersingkap dengan sempurna, sementara dia masih berada di dalam shalat, maka hendaklah dia menyelesaikannya dengan ringan dan tidak memutuskan shalat.

BAB KELIMA BELAS

SHALAT JENAZAH DAN HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN JENAZAH

Kata الجنائز  'al-janaizu' adalah bentuk jamak dari جنازة 'janazatun', maknanya sama.

Ada yang berkata جنازة 'janazatun'  dengan huruf jim difathah adalah nama untuk mayit.

Sedangkan جنازة 'jinazatun' huruf jim dikasrah adalah nama untuk keranda mayit.

Manusia seharusnya mengingat kematian dan akhir hidupnya di dunia ini, sehingga dia akan bersiap-siap menghadapinya dengan amal shalih dan berbekal untuk kehidupan akhirat, bertaubat dari maksiat, dan melepaskan diri dari kezhaliman.

Oleh karena itu disunnahkan:
- menjenguk orang sakit,
- mengingatkannya agar bertaubat dan berwasiat.

Dan jika orang sakit menghadapi sakaratul maut, disunnahkan untuk:
- mentalqinkannya dengan kalimat 'La ilaha illallah',
- menghadapkan ke kiblat (jika mampu).

Lalu jika dia meninggal, maka disunnahkan untuk:
- memejamkan kedua matanya,
- segera menyiapkan jenazahnya dan memakamkannya.

Bab ini terdiri dari beberapa bagian:

BAGIAN PERTAMA
HUKUM MEMANDIKAN JENAZAH DAN TATA CARANYA

1. HUKUMNYA

Memandikan jenazah hukumnya wajib, sebab Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkannya, sebagaimana dalam sabda beliau tentang seorang laki-laki ketika dalam keadaan ihram dia jatuh dari untanya sehingga lehernya patah,

إغسلوه بماء وسدر.

"Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara." Muttafaq 'alaih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1266), dan Muslim (1206)

Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan Zainab رضي الله عنها putri beliau,

إغسلنها ثلاثا، أوخمسا، أو سبعا.

"Mandikanlah dia tiga kali, atau lima, atau tujuh kali." Muttafaq 'alaih. diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1259), dan Muslim (939).

Hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifayah menurut ijma' ulama.

2. TATA CARA MEMANDIKAN JENAZAH

Bersambung insya Allah.

•••━════━•••

Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada hari Rabu, 21 Sya'ban 1441 H / 15 April 2020 M

====°°°°====°°°°====°°°°====

Akhawati fillah, jika ada yang tidak dipahami, silakan dicatat untuk ditanyakan melalui admin grup masing-masing.

Barakallahu fikunna

#NAMuyassar #NAM135
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

Bagi yang ingin mendapatkan faedah dari dars kitab Al-Fiqhu Al-Muyassar, silakan mengunjungi:
Channel Telegram:
       ● http://t.me/NAmuyassar
       ● http://t.me/nisaaassunnah
Website:
       ● http://www.nisaa-assunnah.com/p/namuyassar.html
       ● http://www.nisaa-assunnah.com

Nisaa` As-Sunnah

AL-FIQH AL-MUYASSAR (Pertemuan ke-135)) AL-FIQH AL-MUYASSAR (Pertemuan ke-135)) Reviewed by Nisaa` As-Sunnah 4 on May 01, 2020 Rating: 5

No comments:

Events

ads
Powered by Blogger.