Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah (Pertemuan 17)









بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد: 



In syaa Allah kita akan melanjutkan materi kita pada hari ini, yaitu



FATAWA AL-MAR`AH AL-MUSLIMAH 



 Oleh: AL-IMAM MUQBIL BIN HADI AL-WADI'I RAHIMAHULLAH



نسأل الله العون...


FATWA KEENAM:

 PERINGATAN DARI BELAJAR DAN DUDUK MENGAMBIL ILMU DARI AHLUL BID'AH



 Soal Kelima: 



 Disana terdapat halaqah-halaqah tersembunyi yang diadakan oleh salah seorang pelajar, dan dua mengingkari penisbatannya kepada Al-Ishlah, bersamaan dengan itu kami mengetahui bahwa dia adalah pengikutnya dan dilaksanakan dengan bergabungnya anak-anak perempuan pada halaqah-halaqah ini, jumlah mereka sampai 9 pelajar.


 Dia mengajarkan tafsir Kitabullah dari kitab: Azh- Zhalal milik Sayid Qutub, dengan apa yang ada didalamnya dari kesesatan dan yang lainnya, Mengajarkan kitab: -yakni- Intima`i lil Islam milik Fathi Yakun dan yang lainnya, kitab milik Hasan Al Banna, dan kitab milik Muhammad Surur Zainul 'Abidin[1].


 Halaqah-halaqah ini dilakukan setiap pekan, dan sungguh kami telah tergabung dihalaqah-halaqah itu pada awalnya karena ketidaktahuan kami tentang keadaan mereka para penulis, akan tetapi setelah kami mendengar kaset Al Ikhwan Al Muslimun milik Abdul Lathif Basyamil, jelaslah kebenaran untuk kami. 


 Maka apa pendapat kalian dan apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kami bertindak dengan mereka para pelajar dan apa kewajiban kami seperti saudari-saudari kami yang ada di halaqah ini, apakah dinasehati atau tidak? 


Jawab:  


 Telah berlalu bahwa kami tidak menasehatkan untuk belajar disisi mereka bahkan kami tidak mengizinkan untuk belajar di halaqah-halaqah yang ada. 


 Maka pelajarilah sebagian kitab yang baik, tidaklah sampai sekitar 3 bulan kecuali tingkatan kalian lebih tinggi dari mereka, Alhamdulillah. Seseorang terkadang terpengaruh dengan teman duduknya sebagaimana Allah telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: 



وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا



 "Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul * Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku) * Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia"



 Dan janganlah membenarkannya, karena sesungguhnya dia katakan, aku bukanlah dari Al Ikhwanul Muslimin, jangan benarkan ini, karena sungguh aku pernah suatu ketika bertemu dengan Abdullah Sha'tar[2] di Jami' Ad Dakwah dan itu sepertinya 7 tahun yang lalu, dan dia bersumpah demi Allah dihadapanku bahwa dia tidak bersama Al Ikhwan Al Muslimin dan yang lain dari penduduk Sa'adah dan dia bersumpah demi Allah bahwa dia tidak bersama Al Ikhwan Al Muslimin. Akan tetapi, apa yang tersisa dia bersama mereka di pemilu dan menyerukan pemilu bersama mereka bahkan mengajukan dirinya bersama mereka pada pemilu -wahai saudara-saudaraku-.


 Sebagian mereka tidak bertaqwa kepada Allah tetapi mempertaruhkan dirinya untuk kemashlahatan dakwah. Adapun sebagian yang lain memiliki kecerdasan akan tetapi mempermainkan kata-kata sebagaimana sebagian mereka mengatakan, Demi Allah aku tidak bersama Jam'iyatul Hikmah, mereka katakan, Wahai Fulan takutlah kepada Allah kami mengetahui bahwa kamu bersama Jam'iyatul Hikmah, takutlah kepada Allah dan tebuslah sumpahmu, mengapa engkau bersumpah? dia berkata: aku sekarang berbicara denganmu di Jam'iyatul Hikmah atau dimasjid? Maka mengapa?  terkadang dia memiliki niat-niat yang kamu tidak mengetahuinya atau terkadang dia tidak peduli dengan sumpahnya, Allahul Musta'an. 



 Alhamdulillah dakwah ahlussunah telah tersebar, aku menasehatkan kalian untuk membaca kitab-kitab yang telah kalian dengar sebelumnya dan seperti 'Umdatul Ahkam dan jika ada sesuatu yang sulit bagi kalian maka kembalilah kepada penjelasan-penjelasan yang mudah dan ambillah faedah darinya, adapun pergi dan belajar dari Al Ikhwan Al Muslimin aku menganggap hal tersebut adalah kerendahan walaupun di ma'had-ma'had mereka atau yang lainnya, baik kamu seorang salafi dalam keadaan tetap terhina, tidak ada seorangpun akan mendengar sesuatu darimu karena mereka akan mengusirmu atau kamu akan bergabung bersama mereka diatas apa yang mereka berada diatasnya. 


 Demikian juga hal tersebut merupakan jalan menuju penyimpangan. 
Jika kalian mampu maka nasehatilah mereka (saudari-saudari kalian). Karena agama adalah nasehat dan jika kalian khawatir dari gangguan, maka Allah tidaklah membebani satu jiwa kecuali sesuai dengan usahanya, sekalipun begitu mungkin kamu bisa menghadiahkannya kaset dan mungkin bagimu menghadiahkannya buletin milik sebagian ulama yang menjelaskan keadaan-keadaan Al Ikhwan Al Muslimin, sungguh telah jelas hakikatnya. 


 Sungguh dahulu di Yaman, Al Ikhwan  Al Muslimin lebih kuat karena mereka memiliki ma'had-ma'had dan datang harta-harta dari Saudi[3] dan selainnya, dan aku tidak katakan dari pemerintah tapi dari para dermawan. 


 Dan sungguh dahulu mereka mengadakan perkumpulan-perkumpulan dan tidak didapatkan ketika itu di Yaman kecuali dakwan Al Ikhwan Al Muslimin, mereka berkeliling dan menyergap, setelah itu tampaklah dakwah ahlussunnah alhamdulillah jatuhlah Al Ikhwan Al Muflisun, orang-orang Jam'iyatul Hikmah, Jam'iyatul Ihsan, dan Jam'iyatul Ishlah yang mana dia adalah pengikut Al Ikhwan Al Muslimin.
Dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap, dan keutamaan ini milik Allah subhanahu wata'ala. 


Dan jika mereka tidak menerima nasehat:  


من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان


"Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman"


Janganlah kalian mengadiri perkumpulan-perkumpulan mereka, dan jika kalian bertemu dengan mereka maka berilah salam kepada mereka, akan tetapi jika mereka ingin mengajakmu menghadiri ceramah atau pelajaran maka tolaklah mereka. 
==================



Fn: 
[1] Zainul 'Abidin yayasan bid'ah Sururi. 
[2] Terompet dari terompetnya Al Ikhwanul Muflisin. 
[3] Para dermawan yang semisal mereka. 



 Sumber: dari kaset pertanyaan-pertanyaan pelajar universitas. 


Fatawa Al Mar'ah lil Imam Al Wadi'i rahimahullah hal. 39-41



 Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Ubaidah Ruqayyah Al-Ambuniyyah hafizhahallah pada hari Senin, 23 Syawal 1436 H / 10 Agustus 2015





WA Nisaa` As-Sunnah
Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah (Pertemuan 17) Fatawa Al-Mar'ah Al-Muslimah (Pertemuan 17) Reviewed by Nisaa As-Sunnah 2 on August 12, 2015 Rating: 5

Events

ads
Powered by Blogger.